FREE MY SOUL
MY TRIP
Senin 4 Maret,
Kejadian itu ternyata sudah empat tahun lamanya berlalu. Sebenarnya perlahan namun
pasti waktu telah menjauhkanku dengan segala ketakutan dan
kegelisahan yang aku alami selama empat tahun
lamanya dan meskipun berontak dengan sekuat logika otak namun
memori itu
masih saja terus menyerang.
Semua
itu bermula dari perjalanan kami ke
sebuah desa kecil yang bernama Pringratu. Saat itu aku tergabung dalam kelompok mahasiswa pecinta alam di kampusku yang sedang mengadakan acara menelusuri gua di salah satu gua yang
masih perawan di selatan
pulau Jawa.
Kami memang menyukai gua yang alami dan belum
pernah terjamah oleh jejak langkah
manusia. Jika menemukan sebuah gua apalagi yang masih perawan hasrat kami langsung meningkat seperti bertemu dengan gadis jelita. Kami sangat ingin menjadi yang pertama mencoba kedalamannya.
Anton, Deni, Roni, Teri, Jodi, Riska, dan aku Andi. Kami bertujuh melakukan
petualangan menikmati alam indah ini. Kurang lebih
enam jam waktu perjalanan yang diperlukan dengan Jeep dari kota kami ke gua yang menjadi tujuan. Pemberhentian terakhir yang paling dekat
dengan gua adalah sebuah desa yang bernama Pringratu.
Desa kecil dengan
penduduk yang
tidak terlalu banyak namun sangat ramah. Menyenangkan sekali ternyata perjalanan
kami.
Karena tiba disana sudah malam, maka kami memutuskan untuk bermalam di rumah warga. Setelah meminta ijin kepada kepala desa akhrnya kami
diijinkan untuk menginap di rumah kepala desa. Pak Handoko, itulah nama
kepala desa Pringratu, orangnya sangat menarik. Dengan keterbatasan di desa yang sangat terpencil dan belum mendapat aliran listrik dari Negara tersebut, Pak Handoko termasuk seseorang yang mempunyai wawasan
yang luas. Dia menceritakan bahwa di desa itu dulu juga sering kali kedatangan tamu
para mahasiswa yang melakukan kuliah kerja
nyata atau KKN yang memang ditugaskan dari
kampus mereka untuk membantu masyarakat sehingga mereka
tidak segan untuk banyak belajar dari mahasiswa yang melakukan kunjungan di desa tersebut.
Karena terlalu capek, kami pun tidak sempat untuk mengobrol terlalu banyak dengan Pak Handoko dan memutuskan untuk pamit tidur. Desa Pringratu pada pagi hari sangatlah indah dengan kesejukan alami dan
alam yang mempesona. Pepohonan membentang nun jauh dan bukit menjadi
penutupnya. Kami benar-benar menikmati menghirup udara pagi yang murni belum
tercampur polusi kota. Masyarakat desa ini memulai
aktvitasnya pagi-pagi benar, sebagian bertani dengan
tanaman yang
tidak terlalu membutuhkan banyak air karena daerah ini terdapat di area pegunungan
karst dan sebagian lagi sebagai nelayan karena dibalik pengunungan karst itu ternyata sudah pantai. Karena terisolasi oleh pegunungan dan jalur menuju ke desa yang agak susah dilewati maka tidak banyak orang yang datang ke desa ini sehingga semuanya
masih alami
dan sangat indah.
Segera kami bersiap mengecek segala peralatan untuk
memulai petualangan yang ada di depan nanti. Walaupun pemandangan di pantai Pringratu itu
sangatlah indah namun kami sudah mempunyai jadwal rencana untuk caving di gua
di dalam pegunungan desa Pringratu. Setelah makan siang, kami memutuskan untuk memulai penyusuran gua.
Mbah Rejo, salah satu tetua di desa Pringratu berpesan kepada kami jika jangan sekali-kali memanggil sang ratu.
Entah apa maksudnya, tetapi kami terus melanjutkan saja perjalanan itu tanpa mempedulikan perkataannya tadi.
Setelah berjalan dan mendaki selama beberapa menit kami sampai di mulut gua. Gua tersebut tidak terlalu besar namun kami yakin dengan kedalaman gua tersebut pasti lumayan panjang dengan adanya banyak kelelawar yang menjadikan gua tersebut rumahnya. Bau kotoran kelelawar sangat menyengat pada waktu
kami berada dipinggir mulut gua tersebut. Anton dengan pengalamannya dalam kelompok kami yang selalu menjadi ranger sekaligus ketua
kelompok, dia dengan gesitnya masuk ke dalam gua dan langsung memberikan
sinyal kepada kami untuk mengikuti dibelakangnya.
Kotoran kelelawar langsung menyambut kami. Badan kami langsung dipenuhi kotoran
kelelawar karena mulut gua yang sempit dan mengharuskan kami untuk sedikit merangkak di dalamnya.
Setelah beberapa meter kami merangkak, akhirnya kami menemukan rongga yang agak besar ukuran 3x3 meter jika tidak salah perhitunganku. Sedikit agak lega buat kami berkumpul dan
mencari jalan untuk semakin masuk ke dalam.
Stalactite dan Stalagmite yang terjadi secara alami sangat indah menghiasi
ruangan di dalam gua tersebut. Stalactite yang menurut beberapa literatur terjadi karena air muncul di atap gua menggantung
sebentar sebelum jatuh ke lantai gua. Selama menggantung tersebut, karbondioksida menghilang ke atmosfer gua, larutannya menjadi sangat
jenuh air, dan bahan mineralnya yang sangat sedikit jumlahnya akan tertinggal
melingkar dengan ukuran sama dengan tetesannya. Lingkaran tersebut akan tumbuh
ke bawah dengan diameter konstan dan materialnya bertambah terus sampai sebuah
tube yang ramping terbentuk sehingga memperlihatkan seperti tombak tombak angkasa. Stalagmite terbentuk kebalikannya
dari Stalactite karena tetesan yang jatuh ke bawah ke lantai gua terus mengendapkan material, dan membangun suatu gundukan.
Kemudian dia tumbuh sebagai bentuk silinder yang semakin tinggi.
Kami pun melanjutkan perjalanan dan ternyata jalan satu-satunya adalah kami harus
turun ke jurang palung yang kami belum
tahu
kedalamannya. Teri yang di dalam kelompok
kami terkenal sebagai si smart karena
dia yang paling jago dalam soal perhitungan. Dengan sigap Teri mengambil
suar dan melemparkan ke dalam jurang tersebut
sambil melihat jam untuk
mengukur berapa detik suar tersebut sampai ke dasar. Setelah suar tersebut sampai ke dasar, segera Teri menyuruh kami untuk memasang tali lalu kami segera ke
bawah sana.
Satu persatu kami turun ke bawah dengan kegelapan yang sangat pekat dan dingin oleh kelembaban gua yang menyebabkan jemari dan
pijakan kami menjadi licin. Untungnya cahaya dari senter yang kami persiapkan mampu untuk menjadi penerang yang sangat kami andalkan. Setelah semuanya sampai ke bawah, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan
dengan merangkak lagi karena sekali lagi jalan itu sebuah lorong yang sangatlah
kecil.
Jodi yang mempunyai badan yang paling besar diantara kami terjepit
di dalam perjalanan itu. Anton, Teri, Riska dan Roni sudah berada di depan, dibelakangnya berurutan
Jodi, Deni, dan aku. Karena panik Jodi yang sudah terjepit menjadi semakin susah untuk keluar. Kami takut Jodi yang merupakan mantan pengidap claustrophobia yang ikut kegiatan mapala sebenarnya untuk berusaha mengalahkan
phobianya menjadi kambuh.
"Jod, tenang jangan
terlalu banyak gerak, rileks lemaskan
otot2 yang
nempel di tulang-tulangmu" kataku coba
memberikan saran.
"Argh, gue kejepit tolong...Gue kejepit...Gue bakal mati disini...Aduuuhhh
gue gak bisa keluar!!...” Teriak Jodi dengan ketakutan yang sangat besar.
"Goyang dombreet bro,
ayo goyang Jod..." Anton yang ada di depan kami berusaha menggoda dan membuat Jodi menjadi rileks dengan bernyanyi dangdut
karena jika sedang terjepit memang yang dibutuhkan adalah rileks dengan melemaskan semua otot-otot badan sehingga menjadi
lentur dan dapat
terlepas dari himpitan bebatuan tersebut.
"Argh...Oke-oke..Ton, tolong gue..Gak mau mati disini!!..."
"Hei kebo, kalo lo mati disini terus gue jadi gak bisa lanjut ngikut Anton ke dalam donk...Ogah banget! Gue tu kesini mau ikut anak-anak ke dalam...Gue tonjok lo kalo bikin jalan gue kehalang..." Teriak Deni dibelakangku untuk mencairkan suasana dengan gaya bercandanya.
Setelah sekian menit akhirnya Jodi sudah semakin tenang. Aku yang ada dibelakangnya mencoba mendorongnya pelan dan teman-teman terus saja memberikan semangat. Dan akhirnya Jodi lolos dari himpitan dinding batu tersebut.
"Kebo lo nyusain gue aja pake acara
nyempil di jalan, tadi lo pake pelumas dulu kek biar licin." Kata Deni dan langsung membuat kami ketawa.
Gua
itu tidaklah besar tapi menurut kami jalan ke depan sangat dalam dengan jalur yang tidak mudah, terkadang harus merangkak dan merayap bahkan kami harus seperti ular karena lorong untuk kami berjalan sangatlah sempit, namun kadang kami
menemukan
ruang gua yang besar untuk kami berkumpul.
Di ruang yang agak besar
tersebut kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Riska, si seksi konsumsi
di dalam kelompok kami, langsung mengeluarkan persediaan makanan dalam tasnya. Sambil istirahat dan juga mengisi perut, Anton melihat-lihat sekeliling berusaha mencari jalan.
"Teman-teman di depan kita ada tiga jalur, satu besar dan
yang lain
sepertinya kecil-kecil, kita nanti
ambil yang besar
saja
ya?" Tanya Anton tanpa memerlukan jawaban karena dia sudah menjawab sendiri.
"Yoi Ton, gue juga ogah kalo lo kasi jalan sempit lagi" jawab Jodi mengiyakan karena
takut kejadian terjepit tadi
terulang.
"Elo Jod, tadi seharusnya lo kagak dikasi makan aja biar tu badan kagak nyusahin orang" Kataku sambil diikuti ketawa teman-teman.
CENOTE ANGELITA
"Teman-teman ternyata kita
sudah dua
belas jam jalan
disini, kalo menurut perhitunganku seharusnya
kita sudah ditengah bukit jika kita
berjalan lurus. Namun arah kita sebenarnya malah semakin kedalam, apa tidak sebaiknya kita balik aja terus kita buka jalan dengan warga desa biar lebih bisa dapat lorong lebih besar terus
kita bisa lanjut penyusuran ini besok dengan kondisi yang lebih bagus daripada sekarang ini. Karena perbekalan yang kita
bawa cuma
cukup buat satu hari saja." Tanya Teri dengan penuh perhitungan.
"Tapi Ter, kita bahkan belum sampai benar-benar ke
dalam,
terus apa kita langsung nyerah gitu aja?" Jawabku untuk membuat teman-teman semangat.
"Aku setuju pendapat Andi, apa guna kita kesini
kalo cuma hasilnya segini doank" Kata Roni pasti.
"Tapi bekal dan baterai buat senter kita cuma
terbatas waktunya" Sanggah Teri lagi.
Disaat kami berdebat, Anton yang seperti biasa menjadi ketua dalam kelompok kami coba memberikan solusi dengan bijak, "Sekarang kita coba dulu lanjutkan selama yang kita bisa dan yakin untuk bisa kembali dengan aman dan selamat, jadi sekarang jangan membuang waktu ayo guys kita lanjutkan perjuangannya."
Meskipun tujuan kami dalam kegiatan caving kali
ini awalnya hanya untuk membantu pariwisata daerah setempat dengan membuka
jalur di dalam gua, diharapkan olah raga menyusuri gua ini menjadikan gua di
desa Pringratu menjadi primadona, sehingga sektor ekonomi desa akan terbantu
dengan adanya wisatawan untuk mencoba menjelajah gua ini. Namun karena hasrat
kami yang sangat besar kami tidak mau begitu saja menghentikan kegiatan kami
ini karena kecintaan kami terhadap caving.
Segera kami membereskan bekal makanan dan melanjutkan perjalanan.
Kami memilih jalan paling besar karena menurut kami jalan itu yang paling aman untuk dilewati.
Di dalam kegelapan yang hanya dengan penerangan senter, kami melihat stalactite dan stalagmite yang menjuntai dengan indahnya sebagai akibat dari endapan air yang menetes ribuan tahun lamanya. Inilah yang kami cari, keindahan bebatuan alam yang sungguh indah sangat memuaskan mata siapapun yang
melihat. Sungguh luar biasa.
Tidak berapa lama, kami menemukan
aliran sungai bawah tanah.
"Wow...Cenote Angelita ada
disini guy's.." Teriak Roni.
"Apaan emang di laut,
tetapi sebenarnya kurang tepat kalo menyebut Coneta Angelita
sebagai sungai di dasar laut. Yang
gue baca Coneta Angelita sebenarnya sebuah gua berair
di tengah hutan, bukan di laut, walaupun airnya memang terhubung dengan laut itu...Guys ayo cave tubing aja..." Kataku sambil mengajak yang lain.
"Jangan,
kita masih
harus pelajari dulu
karakternya. Kita tidak
bisa sembarangan untuk melakukan sesuatu disini." Larang Anton
Akhirnya kami sepakat untuk menyusuri sungai tersebut
karena kami yakin
sungai tersebut pasti bermuara ke suatu tempat dan barangkali
itulah jalan keluar yang kami cari.
Menurut literatur yang pernah kami baca air bawah tanah didaerah karst (batu gamping), mempunyai sistem hidrologi yang berbeda
dengan daerah non karstik. Hal ini berhubungan dengan sifat fisik-kimia batu
gamping. Batu gamping bersifat porous, dan langsung meluluskan air hujan yang
jatuh dipermukaan tanah melewati rekahan-rekahan pelapisan batuan vertikal dan
horisontal.
Sehingga tidak memungkinkan terdapatnya air di permukaan. Kemudian air yang mengalir dibawah permukaan akan terakumulasi dalam suatu pola aliran tertentu sebagaimana layaknya sungai permukaan, dengan melewati lorong-lorong gua menjadi sungai bawah tanah. Dan setiap musim kemarau tiba, timbul masalah kekurangan air karena hilangnya sungai permukaan melalui rekahan-rekahan berupa gua yang tersebar diseluruh kawasan. Dengan memperhatikan fenomena tersebut, bisa diketahui bahwa di setiap musim kemarau tidak tersedia air permukaan dalam jumlah cukup. Sehingga bencana kekeringan menjadi ancaman di setiap tahun. Padahal jauh di bawah permukaan, air mengalir dengan percuma kemudian muncul di tempat lain yang jauh. Hal ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh penduduk desa Pringratu dengan menyedot aliran sungai yang ada di dalam gua ini pada musim kemarau untuk mencukupi kebutuhan air di desanya karena pada musim kemarau penduduk desa sangatlah susah untuk mencari air.
Sehingga tidak memungkinkan terdapatnya air di permukaan. Kemudian air yang mengalir dibawah permukaan akan terakumulasi dalam suatu pola aliran tertentu sebagaimana layaknya sungai permukaan, dengan melewati lorong-lorong gua menjadi sungai bawah tanah. Dan setiap musim kemarau tiba, timbul masalah kekurangan air karena hilangnya sungai permukaan melalui rekahan-rekahan berupa gua yang tersebar diseluruh kawasan. Dengan memperhatikan fenomena tersebut, bisa diketahui bahwa di setiap musim kemarau tidak tersedia air permukaan dalam jumlah cukup. Sehingga bencana kekeringan menjadi ancaman di setiap tahun. Padahal jauh di bawah permukaan, air mengalir dengan percuma kemudian muncul di tempat lain yang jauh. Hal ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh penduduk desa Pringratu dengan menyedot aliran sungai yang ada di dalam gua ini pada musim kemarau untuk mencukupi kebutuhan air di desanya karena pada musim kemarau penduduk desa sangatlah susah untuk mencari air.
Dingin segar dan menyenangkan ada di dalam
sungai tersebut. Untungnya kami berangkat pada musim kemarau
sehingga arusnya tidak besar dan kami dapat berenang di dalamnya sekaligus dapat
membersihkan tubuh dari kotoran kelelawar yang sudah melekat ditubuh kami selama beberapa jam tadi.
Untuk menjelajahi sungai dibawah tanah dianjurkan
sebelumnya untuk mempelajari berbagai teknik untuk survei
pemetaan dan hidrologi sehingga relatif memudahkan untuk melakukan penyelamatan melalui
lorong-lorong gua yang sudah dipetakan.
Biasanya sungai bawah tanah yang akan banjir airnya
menjadi hangat, arus bertambah deras, dan air keruh. Kalau memungkinkan, penelusur gua sebaiknya segera ke
luar atau mencari cerukan-cerukan yang aman dari aliran air. Lokasi yang aman
biasanya tempat itu bersih dari sampah.
Sungai bawah tanah itu tidak
selalu dangkal, ada kalanya
kami terjebak dalam
jurang di sungai tersebut
sehingga kami harus berenang dengan waspada di antara bebatuan
dan jurang.
"Teman-teman di depan jalan buntu dan sepertinya kita harus menyelam. Sekarang gue coba
cari jalan dulu kalian tunggu disini. Roni, lo ikut gue cari jalan.." Kata Anton sambil mengajak Roni karena diantara kami Ronilah yang paling pandai berenang.
"Siap bos." Jawab Roni.
Sungai itu pastilah sangat
dalam, kami rasa sudah 5 menit Anton dan Roni pergi, tetapi belum
kembali juga. Ada perasaan cemas yang menggelayuti kami. Dan saat pikiran itu datang, tiba-tiba mereka muncul ke permukaan.
"Sory agak lama
guy's, tapi kita udah menemukan
jalannya.."
Kata Roni.
"Oiya agak jauh kalian menyelamnya jadi ambil napas panjang, ok..Siap, tu wa.." Anton mulai menyelam diikuti teman-teman yang lain.
Ternyata
aliran sungai dalam
gua tersebut mengarahkan kami semakin ke dalam, dengan
dingin dan kegelapan serasa mencekik dan denyut jantungku semakin tak menentu. Hampir aku tidak kuat menahan nafasku dan
tiba-tiba ada arus yang sangat kuat dan menarik kami jauh sampai ke dalam. Arus
itu berputar dan terus menerus memutar dan seolah menyedot kami sampai akhirnya sampai juga
di permukaan. Permukaan?? Dan
benar permukaan.
Aneh pikirku, rasanya menyelam
jauh ke dalam tetapi malah di kedalaman air
sungai tersebut masih permukaan juga. Seperti berputar kembali
beberapa menit yang lalu dan seharusnya disini masih di dalam air. Berbagai pertanyaan langsung menyeruak di dalam pikiranku.
Tempat ini luasnya kira-kira delapan meter dan
berbentuk seperti pantai di dalam tanah. Di atas kami tetap terdapat Stalactite yang menjulang ke bawah tetapi anehnya disitu tidak kami temukan Stalagmite satupun. Keanehan lagi adalah pijakan kaki kami saat ini bukan bebatuan
tetapi pasir seperti pasir pantai tetapi ada jauh di dalam kedalaman gua.
Apakah fenomena Halocline pada Coneta Angelita ada di dalam gua ini
tetapi jika demikian berarti saat ini kami masih di dalam air dan kami tidak
bisa untuk bernafas, tetapi kami saat ini masih bisa bernafas. Halocline adalah zona vertikal di dalam laut dimana kadar garam berubah
dengan cepat sejalan perubahan kedalaman. Perubahan kadar garam ini akan
mempengaruhi kepadatan air sehingga zona ini kemudian berfungsi sebagai dinding
pemisah antara air asin dan air tawar. Apakah yang terjadi pada kami sekarang??
“Kalian juga merasakan apa yang gue pikirkan guys?" Tanya Teri agak bingung.
"Harusnya kita masih di dalam air kan?" Tanyaku meneruskan.
"Tadi gue dan Roni sempat merasa seperti itu, tetapi whatever sekarang yang penting kita menemukan jalan
lagi supaya bisa keluar dengan selamat." Jawab Anton.
"Deni.." Kata Riska.
Tiba-tiba kami
sadar Deni tidak
ada diantara kami.
"Deniii, woi lo dimana? Kagak lucu ini Den!.." Teriakku.
"Deni kalo
lo kagak nongol gantian gue tonjok elo, biar sampai bengkak gue kagak pduli.." Kata Jodi lagi.
Saat kami sibuk
mencari tiba-tiba Deni muncul di sudut balik bebatuan yang agak besar.
"Anjing!! Lo bikin kita di sini khawatir!" teriak Roni marah.
"Den, lo jangan
kayak gitu lagi bukan waktunya main-main disini." Kata Anton menenangkan semua.
Deni tidak menjawab, dia cuma diam saja. Datar banget pikirku karena Deni biasanya selalu dipenuhi
dengan
celoteh konyolnya, kenapa sekarang jadi diem gini? Tetapi sudahlah yang penting dia enggak kenapa-kenapa juga.
Kami melanjutkan perjalanan lagi dengan rute sungai yang sudah
kami sepakati
tadi.
"Den, lo baek-baek aja kan?" Tanyaku saat ada di samping Deni, namun Deni dengan
dinginnya tidak membalas pertanyaanku.
Kenapa dia jadi kayak air di sungai ini ya, dingin sekali sikapnya...? Berulang kali aku bertanya dalam
hati dan aku yakin
teman-teman pasti juga sependapat denganku.
Penyusuran
gua kami lanjutkan dengan
suasana agak
berbeda, namun kami harus tetap meneruskannya karena sekarang posisi kami sudah terlalu jauh masuk ke dalam gua ini dan jika kami kembali juga pasti memerlukan waktu yang banyak pula.
ALKISAH
Jauh di luar kedalaman
gua tersebut, warga Desa Pringratu sudah mulai gelisah karena penyusuran gua yang dilakukan anak-anak mapala itu sudah
lebih dari 24 jam dan sampai sekarang mereka belum kembali.
Perdebatan mulai terjadi di antara para tetua desa setempat.
"Sudah aku bilang, jangan
sekali-kali masuk ke luweng itu. Itu bukan gua tetapi itu kuburan nyai ratu.."
Kata Mbah Rejo menceritakan kepercayaan adat
desa. Mbah Rejo
dengan usia mungkin sudah di atas sembilan puluh tahun, merupakan salah satu tokoh yang dituakan oleh
masyarakat sekitar.
Beliau hidup mungkin dari jaman penjajahan Belanda masih di tanah air. Karena letak desa ini yang terpencil, masyarakat
desa pada jaman penjajahan itu sendiri malah tidak pernah merasakan penjajahan
namun seperti halnya dalam hal penjajahan, di dalam masa kemerdekaan mereka juga tidak tahu arti dari kemerdekaan itu sendiri karena mereka tidak pernah mengecap pendidikan. Sangat jarang informasi masuk ke dalam desa Pringratu karena akses jalan yang sangat sulit. Baru pada sekitar tahun delapan puluhan peradaban mulai masuk
ke Desa Pringratu. Hal ini membuat masyarakat Desa Pringratu sangat menjunjung tinggi adat
yang merupakan warisan dari nenek moyang mereka.
"Tetapi mereka itu sudah bercerita dan memberikan data-data tentang
penyusuran berbagai
gua yang pernah mereka lakukan, jadi saya pikir mereka pasti sudah ahli dan saya sangat menghargai tujuan mereka untuk
meningkatkan pariwisata yang mengangkat perekonomian masyarakat Desa Pringratu..Saya memiliki keyakinan tidak terjadi apa-apa kepada mereka karena mereka anak-anak yang pintar " Sanggah Pak Handoko, kepala Desa Pringratu yang berusia sekitar setengah abad namun
fisiknya masih seperti pria usia tiga
puluh tahunan. Di desa ini memang usia
warganya tergolong
tinggi karena
desa ini bisa dibilang masih murni dan sangat jauh dari
kontaminasi hingar bingar peradaban di kota. Kearifan lokal sangat terjaga
disini.
"Pak kades, saya
bukannya mau ikut campur tetapi saya saksi hidup jika memang kata Mbah Rejo itu benar. Saya dan mungkin warga yang lain pasti pernah melihat sosok makluk
itu" Tiba-tiba Ponidi, salah
satu pemuda desa berusia sekitar dua
puluh delapan tahunan ikut memberikan pendapatnya.
"Kebon Mbah Sastro, simbah saya
itu dan semua juga sudah tahu jika letaknya memang paling dekat
dengan mulut gua yang dimasuki oleh anak-anak mahasiswa itu. Dan waktu saya menggarap kebonnya juga sering mendengar suara-suara tangisan dari dalam
luweng
disana. Seketika
itu badan saya jadi merinding semua dan kadang selain
suara tangisan juga
disertai seperti suara memanggil. Sudah berulang kali kejadian itu terjadi pak, dan
pasti bapak juga
tahu karena sebagian warga pernah
mengalami hal yang serupa dengan
yang saya alami. Pak kades jangan menutupi dari kami
kalo tempat
itu memang wingit. Kami sudah tahu
semua itu pak!" Tambah Ponidi menjelaskan.
"Ya saya
tahu, itu semua
memang cerita turun temurun dari nenek moyang kita. Tetapi
apakah ada yang benar-benar melihat dan jika ada yang pernah melihat secara langsung tolong saya dikasih bukti. Saudara-saudara jangan percaya dengan mitos, kita
semua beragama jadi jangan percaya dengan tahayul.."
Jawab Pak Handoko.
"Tetapi
bapak tahu itu semua memang benar terjadi kan.." Sanggah Ponidi.
"Sekarang sudah terlambat.." Kata Mbah Rejo.
"Handoko, sepertinya kejadian puluhan
tahun yang lalu terulang kembali.." Tambah Mbah Rejo.
"Jangan
berasumsi dulu mbah, kita tidak bisa langsung mengatakan demikian
karena kita tidak memiliki bukti. Kejadian itu mungkin sekitar tiga puluh tahun yang lalu sampai sekarang kejadian itu tidak pernah ada jawabannya karena semua orang tidak tahu apa yang telah terjadi." Jawab Pak Handoko.
"Justru karena tidak ada yang mengetahui, sepertinya tabir yang lama tertutup akhirnya terbuka lagi." Mbah Sastro menjelaskan dan tiba-tiba langsung dipotong oleh Ponidi, "Kalian ngomong apa? Apa yang terjadi? Apakah ini soal Mbah Sastro? Simbahku sendiri yang orang-orang bilang mati gara-gara dedemit itu?...Aku tahu jika kalian semua menyembunyikan itu semua dariku. Sekarang aku menuntut kalian semua menjelaskan kepadaku bagaimana simbah dan
orang tuaku meninggal, aku rasa aku
sudah layak untuk mengetahui kejadian itu!"
"Di, kami semua tidak
ada yang menutupi kejadian dulu. Tetapi kami berusaha untuk tidak mengingatnya lagi. Itu semua hanya agar
kita semua kembali hidup normal dan semua berjalan dengan baik seperti semula.." Jelas Pak Handoko.
"Hah, normal?!! Itu normal buat kalian, tetapi tidak
bagiku!
Seumur hidup sebatang kara, kalian tidak pernah merasakan hidup sepertiku. Kalian tidak akan pernah tahu rasanya! Aku ingin tahu kejadian sebenarnya yang membuatku kehilangan keluargaku. Kalian bisa menjelaskan kepadaku, apapun yang kalian ceritakan aku siap untuk mendengarkan.." Ponidi berharap kepada
semua tetua
desa untuk menjelaskan
kejadian yang menjadi misteri terbesar di desanya.
"Baik, Handoko mungkin sekarang sudah waktunya kita memberi tahu dia tentang semua kejadian itu." Kata Mbah Rejo.
Segera setelah Mbah Rejo berkata demikian, Pak Handoko sebagai kepala desa memberikan pengarahan kepada warganya jika yang boleh ikut mendengar hanya para tetua desa dan yang lainnya disuruhnya pulang ke rumah masing-masing.
Di rumah kepala desa itu mempunyai
pendopo besar dan sering kali dimanfaatkan sebagai balai warga untuk berembug dan
silaturahmi, Pak Handoko mulai menjelaskan kepada Ponidi.
"Semua ini berhubungan dengan
asal muasal Desa
Pringratu ini, Di. Aku mulai dari awal desa ini terjadi yang diceritakan kepada kami secara turun menurun oleh nenek
moyang kita dulu, jadi
jauh jaman dulu ada sepasang pelarian
kerajaan Majapahit
yang akan dihukum oleh raja pada kala
itu. Mereka akan dihukum mati karena
menjalin cinta terlarang. Seorang putri dari bangsawan kerajaan hendak menikah dengan seorang budak. Pada jaman dulu hal itu sangatlah
menjijikkan
dan membuat raja menjadi
sangat murka. Sehingga mereka melarikan diri hingga
sampailah disini. Akhrnya mereka memadu kasih hingga
melahirkan
seorang anak. Tetapi karena ilmu kesaktian
sang raja yang
sangat hebat sang raja kemudian
memberikan kutukan kepada mereka. Mereka melahirkan anak kembar, namun yang aneh anaknya yang satu manusia perempuan cantik dan yang satu berupa ular naga.
Mereka kaget, namun karena
itu adalah anaknya sendri, darah
dagingnya maka diasuhlah kedua anak tersebut dengan
penuh kasih sayang. Waktu pun berlalu dan si anak perempuan diberi nama Puspita Purnama sudah menjelma menjadi gadis yang sangat cantik jelita. Kecantikan Puspita Purnama sangat tidak
bisa dibayangkan dan konon banyak raja-raja yang mendengar kecantikannya dan berusaha mencari sang gadis
namun tidak pernah ada yang menemukan tempat ini.
Kemudian sang naga atau Puspita Nagamas juga sudah menjadi naga raksasa
sebesar gunung yang mempunyai kesaktian mandraguna. Keluarga
itu saling mengasihi sampai pada
suatu hari. Tepat dihari ulang tahun Puspita Purnama dan Puspita Nagamas yang ke-17, datang segerombolan utusan kerajaan dari
timur yang berhasil menemukan desa ini. Mereka bermaksud untuk membawa Puspita Purnama sebagai calon
permaisuri bagi sang raja. Tentu saja
permintaan tersebut ditolak karena Puspita Purnama belum mau menikah dengan
siapapun karena dia ingin merawat saudaranya Puspita Nagamas dan kedua orang
tuanya. Sehingga akhirnya terjadi
perkelahian antara gerombolan utusan raja itu dengan
Puspita Nagamas. Oleh karena
kesaktian Puspita
Nagamas, maka
dengan mudah gerombolan itu
dikalahkan. Namun sayangnya kedua
orang tua mereka tewas terbunuh oleh pasukan kerajaan tersebut, dan kesedihan
menyelimuti anak-anak itu.
Mendengar permintaannya
ditolak dan pasukannya dikalahkan, maka murkalah raja itu. Dia mengatur strategi karena dia tahu Puspita Nagamas sangatlah sakti. Akhirnya dia memberikan sayembara kepada siapapun yang berhasil mengalahkan Puspita Nagamas dan memberikan Puspita Purnama kepadanya maka
pendekar tersebut akan memiliki setengah dari kekuasaan dan
kekayaannya.
Berlomba-lombalah berbagai
pendekar untuk mencoba kehebatan dari ilmu Puspita Nagamas. Namun dari sepuluhribu pendekar tidak
ada satupun yang mengalahkan Puspita Nagamas.
Bertambah murkalah sang raja, kemudian dia bertemu dengan seorang tua yang merupakan cenayang. Raja itu mendapat cerita bahwa Puspita Nagamas merupakan anak hasil kutukan dari raja Majapahit dan sang raja tersebut sebenarnya sangat sayang kepada putrinya tetapi karena perbuatan mencintai seseorang yang bukan dari golongannya adalah perbuatan yang sangat hina dan kesalahan
yang sangat berat, maka dia memberikan hukuman dan
mengutuk putrinya akan melahirkan naga, namun karena saying, dia juga
memberikan ilmunya yang menjadikan sekarang Puspita Nagamas menjadi sakti. Untuk mengalahkannya harus
mengambil tongkat pusaka sang raja dan bekerja sama dengan
sang ratu penguasa lautan.
Segera setelah mendengar cerita tersebut sang raja memerintahkan untuk mencari dan mengambil tongkat yang dimaksud. Karena kondisi kerajaan Majapahit yang tidak stabil dan banyak pemberontakan karena
ditinggal mangkat raja dan
patihnya, membuat kerajaan itu sangat rapuh dan gampang sekali diserang oleh kerajaan yang lain.
Butuh waktu lima tahun untuk mengalahkan kerajaan Majapahit karena mereka menggunakan trik adu domba dan
memecah daerah-daerah kekuasaan Majapahit sehingga mereka saling bertarung dan
pasukan Mmajapahit yang hanya menyisakan bagian kelompok kecil mudah untuk
dikalahkan. Mereka juga akhirnya mendapatkan tongkat itu. Kemudian rencana selanjutnya untuk bertemu sang ratu lautan. Jalan itu juga tidak mudah karena sang ratu berilmu sangat tinggi dan dia
tidak mau ditemuin siapapun kecuali sang ratu tersebut berkehendak sendiri.
Sampai akhirnya raja itu dapat bertemu. Kemudian dengan liciknya, raja itu mengatur siasat dan berkata jika dia telah mengalahkan Majapahit dan berjanji akan membagi kerajaannya dengan sang ratu dan rakyatnya semua akan menyembahnya jika
ratu lautan tersebut
membantunya mengalahkan Puspita Nagamas. Oleh rayuan raja
itu akhirnya
sang ratu setuju
pada purnama bulan ke tujuh mereka bersama-sama menyerang Puspita Nagamas.
Raja itu tidak
mengetahui jika dalam lima tahun ini Puspita Purnama ternyata sudah menikah dengan seorang pemuda pencari kayu yang tidak sengaja bertemu dengannya. Percintaan mereka berlangsung sangat singkat karena sudah merasa jodoh mereka langsung saja menikah. Puspita Purnama resmi menjadi istri Aryodwipa. Setahun kemudian mereka mendapatkan seorang anak lelaki dan diberi nama Cahyo Purnama yang sering kita sebut sebagai eyang tunggal bumi, nenek moyang Desa Pringratu.
Saat itu Cahyo Purnama sedang bersama ayahnya di hutan yang jauh dari rumah mereka untuk mencari buruan sebagai lauk makan saat di rumah. Meskipun masih kecil namun Cahyo Purnama sangat senang jika diajak ayahnya berburu di dalam hutan.
Hari itu tiba saatnya hari yang dimaksud oleh raja dari timur dengan
ratu penguasa lautan. Akhirnya mereka menggempur keluarga itu.
Mendapat perlawanan yang begitu sengit akhirnya Puspita Nagamas dapat dikalahkan oleh raja
itu, ditusuk
dengan tongkat pusaka dan
mayatnya dilempar ke ujung gunung tertinggi. Raja itu sangatlah puas. Lalu dia mengambil Puspita Purnama dan membawanya ke istananya.
Disana dia langsung dinikahi, tetapi karena tahu Puspita Purnama sudah bersuami dan mempunyai seorang anak. Raja pun murka dan membunuhnya dan memasukkannya ke dalam lubang gua yang dimasukin oleh anak-anak
mahasiswa itu.
Saat kepulangannya ke rumah Aryodwipa dan Cahyo Purnama
melihat rumah mereka dibakar namun mereka tidak menemukan Puspita Purnama dan
Puspita Nagamas. Mereka langsung mencari kepenjuru tempat namun tidak
menemukan. Dan akhirnya beberapa hari kemudian saat mendengar bahwa istrinya telah dibunuh dan
mayatnya dibuang di lubang gua, Aryodwipa kemudian menyusul masuk ke lubang tersebut namun tidak
pernah kembali lagi.
Sang ratu menagih janji kepada raja itu sang raja pun menolak karena dia tidak jadi memperistri Puspita Purnama sehingga akhirnya mereka berseteru dan sang raja
kemudian mati di tangan ratu penguasa
lautan.
Cahyo Purnama sangat sedih dengan
kejadian ini dan akhirnya dia membuat kutukan
bahwa tidak akan pernah ada orang yang masuk ke lubang gua itu dan jika ada yang masuk dia tidak akan pernah kembali lagi seperti ayah dan ibunya dulu.
Kemudian Cahyo Purnama melanjutkan hidupnya
dan akhirnya
membuat cikal bakal desa ini. Desa Pringratu yang berarti
pring itu kayu bambu yang berfungsi untuk
memagari, maksudnya menjaga, memagari atau
mencegah agar
seluruh warga
desa tidak masuk kedalam gua tersebut dan ratu mengingatkan
warganya yang
banyak berprofesi sebagai nelayan agar tidak sembarangan dan
menghormati lautan karena ada ratu penguasa lautan yang dengan kesaktiannya telah mengalahkan pamannya dulu.
Beberapa pemuda desa kita pada jaman tiga puluh
tahunan dulu ada yang mencoba menantang kutukan tersebut
dan masuk ke dalam lubang tersebut namun tidak ada yang pernah berhasil keluar. Nah, Ponidi asal kamu
tahu bahwa simbahmu itu dulu adalah seorang dukun yang hijrah dari daerah utara ke desa ini. Pada jaman itu dia terkenal
sebagai dukun sakti, namun dia sombong. Karena kesombongannya itulah
saat dia mendengar kisah tentang
gua tersebut, dia berkata kepada seluruh warga jika dia adalah satu-satunya yang bisa masuk ke dalam gua tersebut dan kembali dengan selamat karena
kesaktiannya.
Hari itu akhirnya tiba. Mbah sastro kemudian masuk ke dalam gua tersebut disaksikan seluruh warga desa.
Meskipun bapak dan ibumu serta warga sudah mengingatkan bahayanya namun Mbah Sastro malah marah dan berkata apa mereka meragukan kesaktiannya yang sudah tersohor.
Akhirnya Mbah Sastro masuk
ke gua tersebut dan benar seperti dugaan warga, Mbah Sastro tidak
keluar lagi. Setelah tiga hari bapak dan ibumu mengatakan kepada kami bahwa mereka mimpi didatangi Mbah Sastro dan kami harus
menolongnya
karena Mbah Sastro terjebak di dalam hutan. Katanya dia disekap oleh
ribuan manusia-manusia tak berwajah yang menariknya masuk
ke dalam gua.
Namun diantara kami tidak
ada satupun yang berani dan kami pun menolak permintaan orang tuamu. Sehingga tanpa sepengetahuan kami, pada malam harinya orang tuamu ternyata masuk ke dalam gua tersebut. Setelah kami tahu, kami juga tidak bisa berbuat apa-apa dan yang bisa kami lakukan hanyalah merawat dan
membesarkanmu. Makanya kami memberi
sepetak sawah untuk bisa kamu olah saat dewasa ini dan menyampaikan seolah-olah
ini warisan dari simbahmu."
"Kenapa kalian tidak menceritakan kepadaku sejak awal?" Tanya Ponidi sambil menahan kesedihannya karena dia kangen namun dia tidak tahu kangen seperti apa karena sejak kecil dia tidak bisa merasakan kasih sayang orang tuanya.
"Sebenarnya kami tidak mau menceritakannya kepadamu, itu tidak baik" Jawab Mbah Rejo.
"Sekarang jika kalian tahu ada cerita seperti itu kenapa kalian mengijinkan anak-anak mahasiswa itu? Kalian berarti
telah menjadi pembunuh dengan
membiarkan mereka masuk ke dalam lubang kematiannya?" Tanya Ponidi lagi.
"Tidak seperti itu. Jadi
setelah kejadian keluargamu yang merupakan korban terakhir dari gua tersebut, lima tahun yang lalu ada
sekelompok
peneliti dari pemerintah yang
meneliti tentang gua dan bebatuan namun bersifat sangat rahasia sehingga hanya beberapa orang saja yang tahu. Sebenarnya tujuan mereka adalah eksplorasi untuk
mendapatkan bahan material tambang.
Para peneliti itu datang ke kita dan meminta ijin untuk mengeksplorasi gua tersebut. Kami juga tidak serta merta mengijinkan, lalu kami
menceritakan tentang sejarah dan bagaimana anggapan kami tentang gua tersebut. Namun mereka tidak mempedulikannya.
Dengan
peralatan yang
canggih mereka masuk
ke dalam dan melakukan penelitian. Dan ternyata
tidak terjadi apa-apa seperti kejadian
yang sudah-sudah. Apa yang menjadi
kekhawatiran
kami tidak terbukti. Dan bahkan Saya, Mbah Rejo, dan yang lain ada 5 orang penduduk
yang diajak masuk ke dalam gua untuk membuktikan bahwa perkiraan kami salah. Namun yang menjadi pertanyaan buat kami terdapat
mungkin banyak leluhur kita yang masuk dan tidak bisa keluar lagi dari dalam gua termasuk keluargamu namun di dalam gua kami dan para peneliti
tidak menemukan satu pun
tulang belulang manusia.
Penelitian itu hanya berlangsung 1th, karena tidak mendapatkan apa yang dicari maka penelitian itu
dihentikan. Sebelum para peneliti itu
pulang kami bertanya apakah gua itu aman? Dan mereka
memastikan bahwa
gua itu aman
dan mitos-mitos itu ternyata
tidak ada.
Setelah kepergian dari para peneliti tersebut maka kami berani mencoba sendiri masuk ke dalam dan tidak pernah terjadi apa-apa lagi, kemudian karena di dalam itu memang sangat indah maka kami
memutuskan membuka gua tersebut untuk obyek wisata sehingga nantinya dapat
membangun desa kita ini." Terang Pak Handoko.
"Kenapa aku tidak pernah tahu hal ini?" Tanya Ponidi.
"Saat itu kamu sedang
menjadi buruh di perkebunan sawit Di.." Jawab Pak Handoko lagi.
"Jika demikian sekarang anak-anak mahasiswa itu gimana? Apa kalian cuma diam saja disini sama seperti yang dulu kalian lakukan dengan keluargaku?" Ponidi pun bertanya lagi.
"Jika
memang terulang kejadian dulu, kita semua tidak mungkin mampu untuk melawan.." Terang Mbah Rejo.
"Kalau begitu kita jangan sendiri tetapi kita
semua kesana,
kita semua lawan jangan sampai anak-anak itu yang tidak tahu apa-apa menjadi korban berikutnya." Kata Ponidi lantang.
Semua di ruangan itu
saling berpandangan tanpa berkata-kata, mereka takut dengan kutukan itu namun mereka juga membenarkan kata-kata Ponidi tersebut.
"Baiklah, kita
akan melakukan sesuai dengan
keinginanmu. Namun terlebih dahulu kita
meminta bantuan ke kantor polisi terdekat, supaya kita
mendapatkan bantuan dalam pencarian para mahasiswa itu.” Kata Pak Handoko.
“Baiklah segera aku kumpulkan pemuda-pemuda desa
untuk menjadi tim penolong.” Jawab Ponidi.
HARAPAN ADALAH KEKUATAN
Sekolah tinggi yang mengkhususkan dalam pendidikan ilmu ekonomi tersebut langsung
ramai karena berita hilangnya ke tujuh mahasiswa mereka. Keluarga dari tujuh mahasiswa tersebut juga sudah meminta tolong kepada pihak kepolisian karena
sudah tiga hari dari keberangkatan awal tidak ada kabarnya.
Segera tim mapala gabungan dari beberapa kampus dan unit-unit kemahasiswaan yang peduli bersama dengan tim dari basarnas
melakukan koordinasi untuk
nantinya memudahkan proses pencarian.
David adalah
ketua kelompok organisasi mapala di kota ini, dia memaparkan rencana dan
hasil koordinasi saat bersama dengan
tim basarnas. Dengan
tubuh besar dengan otot-otot yang kokoh menopang
badannya disertai dengan
kemampuan analisisnya pantas David menjadi pemimpin bagi teman-teman mapala.
Ada lima truk dari TNI yang digunakan untuk
mengangkut kami dan satu truk basarnas dengan
segala
kelengkapannya. Jarak enam jam menuju lokasi pencarian tidaklah
mudah. Butuh stamina yang sangat prima dan jangan
sampai disana tidak
bisa berbuat apa-apa karena kecapekan.
"Oke teman-teman, kita bagi kelompok besar menjadi lima dan masing-masing diketuai oleh ketua regu untuk koordinasi. Dan masing-masing ketua regu memecah menjadi kelompok kecil lagi. Aldi, Danang, Jason, Fredy, Agung, lo gue kasi kepercayaan ngewakilin teman-teman buat koordinasi.
Sekarang kalian bentuk kelompok kecil dulu untuk memudahkan koordinasi.." Kata David dengan penuh kewibaan sebagai ketua mapala.
"Jika
sudah terbentuk nanti kasih daftar itu ke gue terus kita berangkat. Jangan lupa bikin bagan seksi masing-masing untuk tugas dan tanggung jawabnya guy's.." Kata David menambahkan.
Mereka pun segera menyelesaikan tugasnya dan kemudian masuk ke atas bak truk tersebut. Seperti hendak berangkat perang, mereka dengan yakin dan penuh kedisiplinan dan
tentunya profesionalitas pasti dapat
menyelamatkan
teman-temannya yang terjebak di dalam gua.
Pihak kampus sendiri memberikan dukungan penuh kepada mapala ini agar bisa menyelamatkan teman-temannya. Karena
berita ini sekarang sudah menjadi headline di media-media nasional dan menjadi konsumsi perdebatan
publik tentang cara penanganannya dan
tanggapan pemerintah.
Terkadang keterlaluan juga masyarakat kita karena
bukannya melakukan tindakan nyata sebagai bentuk empati tetapi malah hanya
menjadikan bahan untuk bergosip.
"Vid, lo tau rumor eh bukan
kalau masyarakat disana ngomong tu mitos turun temurun." Agung yang ada di samping David langsung saja mengagetkan David dari pemikirannya tentang masyarakat negara ini.
"Lo ngomong apa? Mitos apa memangnya?" Tanya
David.
"Lo belom tau Vid? Ya ampun, kalo
mitos itu benar tamat deh kita.." Agung ragu.
"Apaan lo aja kagak cerita gimana gue bisa tahu.." David pun menjawab.
"Itu lho kabar
kalau gua yang dimasukin si Anton cs memang angker rada wingit gitu katanya. Konon jika ada yang masuk sana tidak bisa keluar lagi selamanya, hii...." Kata Agung dengan ekspresi berlagak
takut.
"Muke lo.. Sekarang gue tanya lo udah berapa lama di mapala? Udah berapa gunung lo coba? uda berapa gua lo telusurin? Emang mitos tu ada disemua
tempat. Tetapi apa kita juga percaya gitu aja? Sebenarnya menurut gue mitos itu yang disebut kearifan lokal masyarakat disana." Jawab David menjelaskan.
"Kearifan apa maksud lo?.." Agung mulai
bingung.
"Maksudnya biar suasana alami di gua tersebut terjaga dengan baik. Tidak dirusak oleh tangan-tangan jahil jadi dihembuskan saja mitos itu gua angker yang
tidak boleh dimasukin orang." Kata David.
"Ah itu pendapatmu
aja, itu cerita sudah ada dari
jaman moyang mereka, jadi emang mitos yang sudah teruji turun temurun.." Agungpun tak mau kalah.
"Lo itu Gung, kalau lo takut mending lo kagak usah ikut tadi.."
Tiba-tiba Fredy ikut nimbrung dalam
perbincangan David dan Agung.
"Eits, sory Fred..gue walaupun
takut dengan mitos tetapi kagak mungkin melewatkan kesenengan kalian. Masak kalian menikmati stalactite dan stalagmite gua tanpa ada gue. Itu tidak bakal gue biarin tau.." Jawab Agung protes.
"Muke lo Gung, awas aja kalo
disana ngacir, lo gue tinggal disana biar jadi juru kunci.." Kata David dan dilanjutkan ketawa anak-anak yang lain.
"Dengan
bantuan fore rider dari kepolisian semoga kita bisa sampai disana lebih cepat..Guy's bertahanlah kita akan segera jemput kalian.." Kata David di dalam hati.
THE LAST TIME
"Teman-teman pliz, kita istirahat dulu aku sudah enggaaak.." Bruuukk...Riska terjatuh saat dia berusaha memberitahukan kepada kami jika dia sudah tidak kuat lagi.
Segera kami menghampiri dan memberikan pertolongan kepadanya.
"Menurut catatanku kita sudah tiga hari berputar-putar terus disini. Banyak sekali jalan disini namun
aku rasa sepertinya kita hanya berputar terus.
Sebenarnya ke arah mana kita sebaiknya jalan?.." Kataku pasrah.
"Makanan kita habis.." Tambah Jodi.
"Sudah simpan tenaga kalian guy's. Kita pasti bisa menemukan jalan keluarnya.." Jawab Anton menenangkan.
"Aku tidak
kuat lagi Ton..Kenapa kita
kaya gini dimana jalan keluar itu sebenarnya!!" Teri yang tak kuasa menahan air
matanya sebagai luapan emosi yang tak terbendung.
"Gue tau Ter..Gak cuma
elo tapi semua juga merasakan hal yang sama.
Tetapi pliz kita kudu
tenang ya..Semua pasti ada jalan
keluar. Kita tetap harus yakin kalau kita
pasti
menemukan jalan keluarnya. Sekarang kita istirahat dulu sebentar disini, aku mau cari apa yang bisa dimakan buat Riska.." Kata Anton sambil berusaha untuk tenang.
"Gue ikut elo Ton.." Kataku sambil mengikuti langkah kaki Anton. Di jalan aku
berusaha untuk mengetahui apa pendapat Anton tentang semua keadaan ini dan
terutama Deni.
Aku sangat curiga dengan
kondisinya.
"Ton, sebenarnya lo yakin kita baik-baik saja?" Tanyaku kepada Anton yang sibuk
memanjat dinding gua untuk
mendapatkan tetesan air yang mengalir mengikuti lekukan
dinding gua.
"Gue gak tau mau menjawab pertanyaan lo gimana.." Jawab Anton dengan tiba-tiba dan menatapku dengan tajamnya.
"Ton, gue tau lo juga
pasti merasa sama kayak gue, kayak pikiran anak-anak..Gue tau kalau kita sebenarnya nyasar. Gue cuma mau lo sebagai leader kita, yakin sama tujuan kita sehingga kita dapat
keluar dari tempat brengsek ini." Kataku.
"Gue tau Ndi, cuma gue gak bisa nemuin jalan itu jika kita diam saja disini.." Anton menjawab.
"Ok, kita juga semua mencari Ton, tp pliz gunain intuisi lo buat
nemuin jalan. Diantara kita semua cuma elo yang paling senior dalam jelajah gua..Gue percaya intuisi elo masih kuat Ton..” Akupun meyakinkan Anton.
"Gue berusaha Ndi.." Jawab Anton
lemas.
"Ton, lo juga merasa ada yang aneh dari
tempat
ini?" Tanyaku.
"Maksud lo?" Antonpun
bingung dengan pertanyaanku.
"Lo inget waktu kita menyelam tadi?
Sekarang lo pake logika, waktu kita menyelam, itu kan masuk ke dalam tetapi kenapa pas kita dasarnya kita ketarik arus semakin ke dalam dan justru kita menemukan daratan kering tanpa air? Padahal kita ada di dalam air? Elo bisa jelasin itu ke gue?" Pertanyaan bertubi-tubi kulontarkan ke Anton.
"Iya. Itu salah
satu yang gue rasa bikin kita susah buat menemukan jalan keluar.." Jawab Anton yang ternyata memikirkan hal yang sama.
"Kedua. Ton, lo perhatiin ada yang aneh kan sama Deni?" Aku masih penasaran dengan sikap Deni.
"Maksud lo?..." Anton tidak
mengerti yang aku maksud.
"Sejak dari
kejadian dia hilang sebentar tadi, Deni jadi lebih diem..Kalau gue bilang sih jadi lebih dingin.." Aku menjelaskan.
"Ah sudahlah
kita enggak usah mikirin yang aneh-aneh, paling juga dia udah sadar di gua tidak boleh buat bercandaan.." Anton mencoba mengajakku untuk berpikir positif.
"Hmm..Oke, gue terima jawaban lo, tapi
jujur aja gue tetap curiga.." Kataku sambil mengikuti Anton memanjat dinding untuk mengambil botol yang sudah penuh dengan air.
Enam botol kami penuhi dengan waktu yang tidak terlalu lama karena tetesan air yang mengalir di dinding-dinding gua mengalir cukup banyak. Bergegas kami
kembali ke tempat teman-teman berkumpul.
"Ton, Ndi.. Buruan!! Riska kejang!!.." Jerit Teri histeris.
Jodi dan Roni berusaha untuk
memberikan pertolongan dengan
menghangatkan badan Riska dengan jaket yang mereka kenakan, namun disana
nampak Deni yang terdiam dingin.
Bergegas kami lari kesana,
kami berusaha memberikan Riska minum. Aku tidak
tahu apakah Riska sedang dehidrasi karena langsung diberikan minum tetapi yang jelas kami cuma punya air saja.
"Riska bangun, lo kudu
kuat!" Kataku sambil terus memberi Riska minum.
Badan Riska semakin bergetar hebat walaupun dalam kegelapan namun
terlihat samar badannya semakin
membiru.
"Demi Tuhan Riska banguun!!.." Jerit Teri berulang kali.
Anton memeluk Teri sekaligus aku dan berkata,
"Sudahlah
kita harus
iklas.."
"Ton, lo gak boleh
gitu.." Protes Roni. Kemudian Roni memegang pergelangan Riska lalu dia mengecek
denyut di dada dan leher. Segera dia memukul-mukul dada Riska sebagai pengejut agar
jantungnya kembali bekerja.
"Riska lo gak boleh
tinggalin kita disni..Riska elo bangu Ris..Pliz Riskaaa banguuunnn" Teriak Roni.
Kami semua tertegun remuk di hati memandang Riska, teman
kami yang selalu menjadi oase bagi kami. Memberi nutrisi pada
makanan kami karena itu kami selalu jadikan dia seksi konsumsi, namun akhirnya meninggalkan dunia
ini karena kelaparan. Sungguh ironi.
Jodi tak berhenti menangis, jelas sangat membuatnya terpukul karena Riska selalu menjadi soulmate Jodi dengan makanannya.
Masih dengan
kesedihanku
namun aku mencoba memperhatikan sekitar, disana hanya
Deni yang terlihat datar saja.
Tiba-tiba Anton membuka omongan,
"Riska, we love u..Teman-teman, sekarang kita harus lanjutkan perjalanan, pasti
Riska juga berharap kita berhasil keluar dari sini dengan selamat."
"Ton, lo mikir gak sih!! Kita sudah tersesat, kita bakal mati..Kita semua..Elo liat tu Riska disana jadi
korban gua
biadab ini!!..." teriak Jodi.
"Jod, kalau kita gak lanjut buat keluar dari sini omongan elo tu bakal jadi kenyataan, tapi gue pikir benar kata Anton, kita kudu lanjut jalan.." Kataku langsung menjawab Jodi.
"Teman-teman, pliz gue mohon kalian berpikir jernih, kita pasti
gak mau kematian Riska jadi sia-sia kan?" Kata Anton mencoba menjelaskan.
"Ya udah kita lanjut, kita keluar dari sini catat koordinatnya dan setelah itu kita kembali untuk jemput Riska, jangan
pernah tinggalin Riska disini! Buat yang enggak mau ikut terserah, tetapi gue ikut elo Ton.." Jawab Teri tiba-tiba.
Akhirnya terjadi kesepakatan, kami akan mengikuti saran Teri. Dan segera kami
mulai melanjutkan perjalanan.
Menyusur gua memang tidak semudah yang dibayangkan. Jalan kami semakin berkelok dan kadang
kami harus membuka jalur sendiri dengan
menggali disela-sela aliran arus sungai dalam
gua ini agar
kami dapat masuk ke dalam jalan tersebut.
PENYELAMATAN
Iring-iringan mulai memasuki Desa Pringratu. Desa yang dahulu sangat sepi dan jauh dari
hingar bingar orang asing pendatang dari
luar desa, sekarang dipenuhi dengan
truk-truk yang mengangkut
anggota-anggota basarnas, TNI, polisi, dan mapala sebagai tim relawan untuk mencari Anton cs. Suasana menjadi sangat riuh seperti sedang mau perang, para tim
pencari itu segera melakukan persiapan. David pun segera bergabung dengan perwakilan basarnas, TNI, dan polisi untuk membahas strategi dan
maping daerah untuk
nantinya menjadi acuan anggotanya dalam melakukan proses
pencarian. Mereka kemudian bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat Desa Pringratu yang memang sudah menunggu kedatangan tim
itu setelah mereka melaporkan ke polisi terdekat sehabis mendapat kesimpulan pada rapat warga yang lalu.
"Pak Handoko, perkenalkan saya Teguh perwakilan dari tim ini. Seperti yang bapak lihat, kami terdiri dari berbagai elemen yang nantinya dalam satu komando saya sebagai koordinator teman-teman dalam melakukan pencarian. Namun
sebelumnya kami boleh untuk mengetahui karakter dari gua ini bagaimana? Dapatkah kami diberitahukan tentang gambaran konturnya?" Sesosok tentara berpangkat
Letnan Kolonel yang sigap dengan perawakan yang sangat terlatih membuka
pembicaraan lagsung ke pokok permasalahan karena kami tidak punya banyak waktu untuk
berlama-lama.
"Sebenarnya gua ini pada awalnya tidak ada yang berani masuk karena buat kami warga desa, gua ini sangat terlarang. Namun, karena dulu ada penelitian dari pemerintah yang menyatakan gua ini aman untuk dimasuki maka kami
memutuskan untuk memperbolehkan siapapun yang mau menikmati
pemandangan alam di dalam gua. Untuk kedalamannya sendri, terus terang kami atau dari peneliti yang dulu pernah melakukan observasi
disni tidak ada yang tahu pasti. Namun, saya sendiri pernah ikut para peneliti itu
masuk ke dalam tetapi kami cuma berhasil masuk dua puluh meter ke dalam karena kontur yang agak sulit buat kami." Jelas Pak Handoko.
"Baik, jika
begitu kira-kira adakah dari
warga yang
mau jadi penunjuk arah kami? " Tanya Letkol Teguh.
"Saya Pak Kades.." Ponidi tiba-tiba langsung menyahut pembicaraan
kami.
"Bapak-bapak dari tim relawan kenalkan nama saya Ponidi.." Kata Pponidi saat dia menawarkan dirinya untuk mengantar para relawan tim pencari ini.
"Baik, jika begitu mari kita bergegas, untuk semua anggota tolong dikoordinasikan tim-timnya agar nantinya efektif, cepat, dan tepat..” Kata Letkol Teguh.
David pun segera kembali ke kelompoknya untuk membuat koordinasi bersama dengan teman-temannya.
"Tim Jason dan Fredy, kalian yang paling pengalaman dalam masalah kontur gua,
jadi kalian jadi tim ekspedisi bersama dengan tim dari TNI. Aldi, tim lo back up tim Jason dan Fredy. Agung dan Danang, tim lo mencari jalan keluar lain di balik bukit bersama sebagian lain dari tim TNI..Siap guys?" Kata David menjelaskan.
"Vid, elo udah dapat
mapingnya?" Tanya Jason.
"Secara garis besar gua ini belum ada yang tahu apakah ada tembusan
atau enggak.
Namun, beberapa warga pernah mencoba masuk ke dalam dan dengan mulut gua yang sempit tapi nantinya di
kedalaman kalian bakal nemuin rongga yang cukup
besar." Kata David sekali lagi
menjelaskan.
"Oke, kita persiapkan tim sekarang juga guys.." Sahut Fredy.
"Baiklah aku nanti bersama tim ekspedisi dan jika
menemukan sesuatu, kita berhubungan lewat handy talky ke
pusat komando..Ok, sekarang siapkan diri
kalian.." Kata David sambil membubarkan diri untuk mempersiapkan semua hal yang diperlukan.
Merekapun mempersiapkan semua hal yang mereka butuhkan untuk melakukan penyusuran.
Saat itu para anggota TNI dan basarnas nampak sudah siap, para mahasiswa pecinta alam pun
demikian.
"Untuk
melancarkan
perjalanan sekarang kita berdoa dulu, berdoa menurut agamanya masing-masing, mulai.." Pimpin Lektol Teguh.
Selesai berdoa kami pun mulai memasuki gua. Karena mulut gua yang sempit maka kami memasukinya satu persatu. Dengan sekop kecil kami pun berusaha membuat mulut gua tersebut menjadi lebih besar dengan menyingkirkan partikel-partikel tanah dan lumut
agar nantinya dapat
memperlebar jalan untuk masuk ke dalam.
Di saat yang bersamaan di dalam gua, Anton cs melanjutkan
perjalanannya agar dapat keluar dari gua tersebut.
"Ton, lo tau berapa lama kita berada di dalam gua ini?" Tanya Teri kepada Anton yang dari tadi diam.
"Damn!! Senterku mati..!!" Teriak Jodi.
"Guys, sekarang kita berjalan dengan berbaris. Saling berpegangan dan untuk menghemat baterai senter
maka gue
pikir kita kudu gantian pake senter ini. Kita pake 2 orang aja jika senter itu mati maka ganti yang lain. Begitu seterusnya sampai kita nemuin cahaya atau paling tidak sesuatu yang bisa digunakan untuk
membuat cahaya.
Kedua, orang yang membawa senter berjalan yang satu di paling depan yang satu di barisan paling belakang. Sekarang gue di depan dan Andi lo dibelakang, ok.." Jawab Anton tersadar bahwa kami sudah sangat lama berada di dalam gua ini dan kami harus
menghemat baterai untuk
senter sumber cahaya kami.
Sekarang kami berjalan dengan
membuat
barisan. Anton memimpin kami di depan
dengan Teri, Deni dan Jodi di belakangnya. Sedangkan Roni persis ada di depanku.
Perjalanan kami menjadi semakin sulit saat pencahayaan pun terbatas.
Berulang kali kaki kami terantuk batu karena
terbatasnya cahaya yang menerangi.
Dua jam sudah kami berjalan, tiba-tiba senter kami mati secara mendadak.
"Guys, stop dulu
jangan menyebar.." Kata Anton.
Butuh sekitar tiga menit hingga akhirnya senter itu kembali menyala
dengan normal. Saat itu Roni dan Jodi menghilang. Kami merasa tidak mendengar jejak langkah
kaki saat kami tidak
bisa melihat dalam kegelapan, jadi menurutku tidak mungkin mereka pergi begitu cepat apalagi dengan medan berbatu dengan sedikit pencahayaan membuat
sangat sulit dalam waktu kurang lebih tiga menit untuk
hilang.
"Jodi, Roni, kalian jangan bercanda deh!.." Teriak Teri berusaha memanggil
kedua orang
itu.
"Ter, kita cari bersama, jangan menyebar, hemat bateraimu.." Kata Anton sekali lagi.
Selain langkah suara kami dan gemericik sungai bawah tanah ini aku
hanya dapat mendengar suara detak
jantungku yang berdegup kencang. Ini
mulai aneh menurutku. Aku tidak
bisa diam begitu aja.
"Den, lo tau kan semua ini? Lo siapa sebenarnya? Gue tau lo bukan Deni, siapa lo sebenarnya?!..." Teriakku kepada Deni sambil mendorong dan memojokan Deni hingga badannya menubruk dinding gua. Namun, Deni cuma
terdiam dan melihatku. Begitu dingin dan mengintimidasi seolah dia mengatakan kamu sasaranku selanjutnya.
"Anjing!!..." Kataku sekali lagi sambil memukul Deni. Bukk..Pukulanku tepat kena di rahang Deni hingga dia pun jatuh tersungkur.
"Andi..! Stop, lo jangan
kepancing..Gak
ada yang salah disini, mungkin Jodi dan Roni sudah ada di depan.." Kata Anton melerai kami.
"Asal
lo tau Ton, gue udah curiga dari awal sama bajingan ini! Kalau dia gak ngaku sekarang bakal gue paksa gimana caranya biar
ngaku.." Kataku lagi
sambil berusaha memukul Deni sekali lagi.
"Udah cukup!.." Anton menangkap badanku dan mendorong ke
belakang.." Tidak
ada yang boleh jadi jagoan disni, sekarang simpan tenaga kalian
perjalanan kita masi jauh!.." Sekali lagi Anton berusaha menjadi penengah.
"Andi, kontrol emosi lo, dan lo Den gue harap apa yang diomongin
Andi salah.." Kata Anton menambahkan.
"Ok, tp lo tau gue benar
Ton..” Kataku kepada Anton dengan
Teri ada
disampingku sambil
menangis.
"Guy's gue mau keluar dari
sini, gue gak
mau tempat brengsek ini!.." Kata Teri sambil berusaha berhenti dari
tangisnya.
Setelah beberapa saat perjalanan kami terhenti karena emosiku kepada Deni, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami. Sekarang Anton ada di depan dengan Deni di belakangnya kemudian diikuti oleh Teri dan aku menjadi orang terakhir di barisan.
Tiba-tiba tanpa sengaja cahaya lampu senterku sempat menangkap sesosok siluet yang bergerak sangat cepat tanpa dapat aku mendeskripsikan
sosok apakah itu.
Aku yakin di dalam gua ini bukan hanya kami saja.
Ada makluk lain yang aku sendiri tidak tahu apakah itu dan tentunya aku curiga
Deni yang sekarang adalah bagian dari mereka. Gerakan mereka sangat cepat
karena aku hanya bisa menangkap siluetnya saja. Dan itu semua aku yakin jika
bukan akibat dari khayalanku.
“Ton, gue yakin bukan cuma kita yang ada disini..”
Kataku agak kencang biar Anton dan semua mendengar.
“Maksud lo Ndi?” Tanya Teri.
“Ada yang mengikuti kita dari tadi.” Jawabku datar.
“Sudahlah kita lanjutkan saja, kita harus keluar
dari sini secepatnya” Anton menjawab.
Perjalanan kami menjadi sangat tidak nyaman
menurutku karena sosok makluk itu beberapa kali tertangkap oleh senterku dan
masih saja berupa siluet.
“Siaal..baterai di senter gue habis...” Teriakku
mengumpat.
“Berarti sekarang kita lebih rapat jalannya..”
Kata Anton.
Segera aku maju ke depan tetapi anehnya dalam
beberapa menit tadi Teri dan Deni lenyap. Mereka menghilang begitu saja.
“Teri lo dimana!! Deni bangsat lo jangan ambil
Teri, lo hadapi gue dulu!!” Teriakku. Anton dengan senternya berusaha menyapu
seluruh ruangan di gua tersebut dengan cahaya. Namun hasilnya tetap saja nihil.
Deni dan Teri lenyap mengikuti teman-teman kami sebelumnya.
“Sudah Ndi sekarang kita lanjutkan apapun yang
terjadi kita harus keluar dari sini.” Kata Anton kepadaku.
Kami pun melanjutkan perjalanan itu setelah aku
mengiyakan kata-kata Anton. Perjalanan yang menurutku seperti meniti labirin
tak berkesudahan dengan segala kejadian yang kami alami. Setengah jam kemudian
senter terakhir yang kami punya pun padam. Dan perjalanan selanjutnya kami
lakukan dengan tingkat kegelapan abadi. Sangat pelan dan merangkak karena kami
tidak ingin terjatuh atau pun terantuk bebatuan di dalam gua. Beberapa saat kemudian
aku merasakan sepi dan Anton tidak berada disekitarku.
“Ton, Ton lo dimana? Gue gak denger lo, jangan
maen-maen Ton, gue kagak bercanda!” Teriakku. Berkali-kali aku berusaha berteriak
dan berharap balasan dari Anton tetapi semua itu sepertinya percuma. Anton
tidak pernah membalas bahkan suara jejak langkah atau gesekan di bebatuan gua
itu hampir tidak terdengar. Sunyi sangatlah senyap yang terdengar hanya tetesan
air dan tarikan nafasku sendiri. Aku tidak tahu Anton dan anak-anak mengapa
bisa menghilang seperti itu dan dengan secepat kilat mereka lenyap, sepertinya
ini bukan kejadian yang bisa aku terima dengan akal sehatku. Aku memutuskan
meneruskan perjalanan ini dengan ataupun tanpa mereka. Kira-kira tiga puluh menit kemudian, aku
melihat cahaya agak terang mungkin dua puluh menit perjalananku dengan kondisi
seperti ini. Bergegas aku untuk kesana dan beberapa kali kakiku terantuk bebatuan
tanpa aku pedulikan. Sudah banyak goresan luka di tubuhku karena bebatuan yang
tidak aku rasakan lagi. Sungguh cahaya itu mungkin pintu keluar buatku. Aku
merasa berlari walaupun aku berjalan dengan merayap. Sampai beberapa menit
kemudian aku yakin cahaya itu tepat di tempatku berpijak sekarang. Bagaimana
ini, dimana cahaya itu? Mengapa bisa menghilang??....
Saat itu aku diliputi kebingungan luar biasa. Aku
tidak mampu untuk berpikir lagi. Semua lenyap. Apakah aku juga harus mati
disini? Semua pikiran negatif menghantuiku, mempengaruhi mentalku, dan
menghilangkan setengah kewarasanku. Dimana aku? Apakah aku sudah mati? Apakah
ini neraka??
Aku berjalan kehilangan arah. Aku hanya berjalan
dan terus saja berjalan tanpa mengetahui kemana tujuanku. Pada saat itu
tiba-tiba disampingku ada cahaya yang sangat menyilaukan mata. Disana
samar-samar sambil mengernyitkan mata karena cahaya itu begitu terang di dalam
kegelapan abadi gua ini, aku lihat ada enam sosok siluet. Perlahan namun pasti
mataku mulai beradaptasi dengan cahaya itu dan aku lihat masing-masing siluet
tersebut semakin jelas dan semakin nyata dan nampak empat laki-laki dan dua
wanita. Ketika mereka mendekat wajah mereka tidak asing lagi. Deni, Roni, Teri, Jodi, Anton dan Riska. Ada apa ini, apakah mereka
teman-temanku?
“Guys, kalian sedang bercanda? Ada apa ini??
Kalian kemana saja dan Riska kamu, bukannya kamu su..sudaah meninggal” Kataku terbata.
“Benar Ndi, seperti kata-katamu itu..” Kata Anton.
“Apa maksud semua ini Ton, kata-kataku apa? Siapa
yang meninggal?” Tanyaku dengan ketakutan.
“Kita semua memang sudah meninggal Ndi, dan kita
berusaha menjelaskan kepada kamu. Tidakkah kamu ingat pertanyaanmu tentang
keanehan selama ini?” Jelas Anton.
“Tentang air, tentang kita yang berputar-putar
tanpa tau arah dan bayangan yang selalu mengikuti itu? Apakah itu yang kalian
maksud?” Tanyaku lagi.
“Benar. Kita semua sebenarnya sudah meninggal pada
saat terseret arus bawah aliran sungai di gua ini. Dan arwah kita semua
terpenjara disini, kami tidak bisa untuk kembali ke alam kami karena di gua ini
ada kekuatan yang memenjarakan kita untuk selamanya disini. Andi kamu
satu-satunya orang yang selamat dan kami berusaha untuk memberitahumu, selama
ini Roni dan Jodi selalu mengikuti di belakang kita dan mereka yang kamu lihat
sebagai bayangan yang mengikutimu. Dan Riska di depan matamu kami berusaha
memberi tahukan jika kami sudah meninggal dan satu per satu kami hilang di
hadapanmu.” Anton menjelaskan kebingunganku.
“Tetapi apa maksudnya semua ini?” Tanyaku lagi.
“Andi kami meminta tolong kepadamu agar supaya
membebaskan kami dari gua ini. Banyak jiwa-jiwa lain yang menghuni gua ini yang
terpenjara karena tidak dapat keluar dari gua ini, tolong sampaikan kepada
penduduk desa supaya menggelar selamatan agar kita terbebas dari penjara ini.”
Jelas Anton.
“Tetapi bagaimana gue bisa..Jalan keluar saja gue
gak tahu..” Jawabku lagi.
“Tolong Andi...Tolong kami...Toloongg..” Suara Anton
dan teman-teman lainnya sayup sayup mulai menghilang disertai dengan cahaya
itu, dan akhirnya kegelapan menyelimutiku tanpa secercah cahaya pun. Aku
berjalan terus sampai kemudian kesadaranku mulai hilang dan gelap.
Jauh disana...
Tim ekspedisi sudah semakin masuk ke dalam, sudah
beberapa jam mereka mencari. Setiap tim selalu berhubungan dengan handy talky
sehingga memudahkan untuk berkoordinasi. Sekarang mereka sudah memastikan jika
berada tepat ditengah-tengah gua. Karena di depan ada banyak cabang maka Letkol
Teguh memerintahkan kami untuk berpencar dan membentuk tim-tim kecil.
Masing-masing tim harus ada koordinatornya yang bertugas untuk memberikan laporan
ke pusat komando di luar gua. Setiap tim terdiri dari campuran antara polisi,
TNI, basarnas, dan mapala. Mereka pun melanjutkan penyusurannya ke setiap
lubang yang mungkin kira-kira dimasukin oleh Anton cs. Lubang sebagai jalan tim
itu tidak pernah sama satu dengan lainnya, karena lubang itu sendiri tercipta
sebagai pergeseran lempengan bumi dan tergerus oleh aliran air yang mengalir di
setiap lubang gua itu sendiri baik berupa tetesan atau juga aliran sungai bawah
tanahnya.
Semakin ke dalam kelembabannya semakit pekat dan
kadar oksigen pun juga menipis sehingga udara yang tercipta di dalamnya menjadi
lembab. Gelap abadi akibat tidak ada cahaya setitikpun di dalam sana sehingga
tim itu sangat bergantung kepada senter yang mereka bawa.
Beberapa jam kemudian setelah tim itu menyusuri gua.
Tim yang di dalamnya terdapat David menemukan aliran sungai bawah tanah. Aliran
sungai tersebut cukup kencang sehingga agak beresiko jika kita masuk ke dalamnya.
“Pasti aliran sungai ini bermuara ke jalan keluar.
Dan aku yakin Anton cs pasti akan mengikuti aliran sungai ini. Pak Budi kita
sebaiknya ikuti aliran sungai ini.” Kata David kepada salah seorang petugas
basarnas yang merupakan ketua tim kecil ini.
Dengan intuisi Pak Budi sebagai petugas basarnas
yang memang dia telah dilatih untuk misi penyelamatan, beliau mengiyakan
pendapat David dan tim itu pun setuju untuk mencari di sepanjang aliran sungai
bawah tanah ini.
Sambil terus berkomunikasi dengan pos komando, dua
jam kemudian mereka menemukan tas yang mungkin saja itu tas Anton cs. Segera
mereka melaporkannya ke pos komando dan meneruskan perjalanannya dan benar saja
tidak jauh dari tempat mereka menemukan tas itu terdapat beberapa tubuh
tergeletak disana. Segera mereka meminta bantuan ke pos komando sambil terus
mencari sampai mereka menemukan semua korban.
Beberapa saat kemudian bantuan datang, mereka
membawa kantung jenasah karena mendapat laporan jika semua sudah meninggal dan
hanya ada satu korban yang masih hidup. Evakuasi terus dilakukan. Dengan
peralatan seadanya karena memang tidak memungkinkan membawa alat-alat yang
besar di dalam gua yang sempit seperti ini. Mereka membawa kantong-kantong yang
sudah berisi jenasah itu secara estafet untuk memudahkan dan mempercepat sampai
keluar dari gua. Karena lokasi penemuan itu jauh ke dasar gua maka para relawan
memerlukan waktu agak lama untuk mengeluarkan kantong-kantong itu.
Beberapa jam kemudian tim relawan sudah
mengelurkan enam kantong jenasah dan satu orang yang sedang dalam kondisi
kritis. Segera mereka dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit.
Visum et Repertum dari rumah sakit menyebutkan
bahwa mayat itu sudah meninggal kira-kira tiga sampai empat hari yang lalu. Dan
korban selamat didiagnosa karena kurangnya asupan makanan dan penyakit
paru-paru yang terjadi akibat kondisi udara yang lembab sehinggga berakibat pada sistem
saluran pernapasan terganggu akibat kuman dan virus yang berkembang di ruangan
yang tingkat kelembaban tinggi yang masuk melalui saluran pernapasan.
Suasana di kampus dan keluarga yang ditinggalkan
sangat berduka dengan meninggalnya keenam mahasiswa itu. Dan setelah 48 jam, aku telah melewati
masa-masa kritisnya dan telah sadar. Ditemani oleh David, aku yang masi
terbaring di rumah sakit lalu menceritakan segala apa yang terjadi untuk
kepentingan berkas penyidikan kepolisian. Sampai kemudian aku tersadar setelah
diberi tahu bahwa lokasi penemuan mayat berada di pinggir aliran sungai dan
memang terpencar satu sampai radius beberapa meter dengan yang lainnya dan
kemungkinan besar mereka terseret oleh aliran sungai itu karena derasnya arus
yang ada disana. Berarti kejadian aku berjalan dan semua teman-temanku yang
menghilang satu persatu dan segala kejadian di dalam pencarian pintu keluar itu
tidak nyata karena mereka tidak benar-benar sampai kesana, mayat-mayat mereka
hanya ditemukan di sepanjang pinggir aliran sungai. Dan bahwa ada jalan di
bawah aliran sungai itu tidak nyata.
“Vid, gue bisa minta tolong lo temenin gue kalau
gue udah boleh balik dari sini untuk ke Desa Pringratu, gue ada permintaan dari
teman-teman.” Tanyaku kepada David.
“Maksud lo? Sudahlah yang penting lo sembuh dulu”
Jawab David.
“Lo mau bantu gue kan Vid? Nanti gue cerita
disana.” Pintaku pada David.
Hampir satu bulan dirumah sakit sangatlah tidak
mengenakan. Setelah mengurus administrasi aku diperbolehkan pulang dan
melanjutkan pengobatan di rumah. Segera setelah mendengar itu dengan ijin dari
orang tuaku, aku segera menelpon David.
“Vid, gue sekarang udah balik ke rumah. Lo jemput
gue, nanti kita ke Desa Pringratu, gue ada perlu. Lo mau tolongin gue kan.”
Akupun menagih janji ke David.
“Lo yakin udah sembuh?“ Tanya David.
“Udah..Tolong Vid soalnya ini mendesak sekali
nanti di jalan gue cerita ke elo..” Jawabku.
Dua jam kemudian CJ7 dengan ban yang besar
memperlihatkan mobil yang sangat kokoh terparkir di depan rumah. Segera setelah
meminta ijin dari orang tuaku, aku segera berangkat bersama David menuju Desa Pringratu.
‘Lo ada masalah apa sampai mau kesana lagi? Ada
barang lo yang ketinggalan disana?” Tanya David.
“Bukan Vid, jadi pada saat gue pingsan di gua
anak-anak datangin gue. Dan pada saat itu gue juga gak tahu mereka udah mati
atau belum yang jelas mereka minta sama gue agar warga desa mengadakan acara
doa selamatan karena selama ini banyak arwah-arwah yang terkunci disana dan
mereka tidak bisa keluar dan kembali ke alamnya. Mereka meminta tolong gue
untuk membebaskan mereka dari penjara gua itu. Dan menghilangkan segala kutukan
yang ada di dalam gua itu.” Jelasku.
“Gue sih udah denger tentang mitos itu, tapi gue
juga gak terlalu percaya sama cerita dongeng seperti itu sih.” Kata David.
“Ini bukan dongeng Vid, dan gue yakin sekali itu benar,
Anton dan teman-teman bilang ke gue. Dan gue juga gak peduli urusan cerita
mitos atau dongeng penduduk desa itu yang jelas niat gue ingin selamatan dengan
penduduk desa. Ini gue udah bawa uang tabungan gue ya semoga bisa untuk
membantu acara selamatan itu.” Aku menjelaskan ke David.
Beberapa jam kemudian setelah perjalanan yang
panjang mobil mereka sampai ke depan rumah kepala desa. Pak Handoko menyambut
kami dan segera aku menceritakan maksud dan tujuanku kesana. Dan Pak Handoko
berjanji besok warga desa akan mengadakan selamatan.
Pagi harinya warga sibuk menyiapkan untuk acara di
malam harinya. Warga disini terbiasa jika selamatan pasti akan mengundang
dalang untuk memainkan wayang. Waktupun
berlalu dengan cepat dan sampailah pada
acara selamatan itu. Mereka berdoa dengan khusuknya dan diakhiri dengan
pertunjukan wayang sebagai ritual untuk menolak bala. Saat sedang dimainkan
wayang di akhir cerita terdengar suara seperti letusan yang sangat kencang dan
arahnya dari gua yang Anton cs masukin. Seperti gunung yang meletus namun
bukan. Warga kemudian berdatangan kesana sambil membawa bunga, dan mereka
melihat gua tersebut telah runtuh dan menyebabkan bunyi dentuman yang sangat
hebat tadi. Semoga semuanya sudah tenang di alam sana. Dan masyarakan Desa Pringratu
pun dapat kembali menjalankan aktivitasnya dengan normal dan dengan kearifan
lokalnya tetap menjaga agar bumi lestari.