Jumat, 03 Mei 2013

Accident In Love





Preambule

Sulit untuk mencoba mengerti bagaimana ada cinta yang tak pernah terucap. Ada ketakutan dan kemunafikan atas harga yang di dalam diri. Menyelubung seperti benteng kokoh di istana sang raja meski seribu bayang manisnya terus menggoda. Seperti fajar dengan petang  tak akan pernah bertemu meski selalu bersama dalam kelambu langit. Mengungkapkan rasa cinta untuk endapkan sepi laraku saat waktu yang berlalu.. Namun saat siang pun menjadi malam... Tidak ada yang perlu kita sesali karena aku, kamu dan mereka semua adalah manusia....

Sebait kalimat yang terus teringat di dalam pikiran Raka. Hari ini, Rabu tepat lima tahun setelah kejadian itu. Amel, itu nama sesosok cewe yang membuat  Raka kelimpungan tak berdaya. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama saat mereka berkenalan enam tahun yang lalu..
Pertengahan November Raka berkenalan dengan Amel. Lewat chatting mereka berkenalan lalu tukar menukar nomor handphone untuk mempermudah langkah Raka selanjutnya mendekati Amel.

Amel tinggal di Jakarta sedangkan Raka di Jogja.
“Cukup jauh juga. Tetapi masi satu pulau dan di Indonesia jadi masih bisa mengejarnya. Di jaman sekarang aku juga tidak perlu merisaukan jarak karena teknologi komunikasi sudah sangat maju.” Maka Raka memutuskan mengejarnya. Tindakan yang bisa di bilang bodoh karena bertemu muka saja belum pernah. Namun Raka tidak dapat menutupi hasrat di dalam dirinya, meski dia sendiri tidak mengerti apakah merasa suka, simpatik atau mungkin hanya nafsu.
Dari sejak itu seperti para pejuang, serangan gerilya pun dimulai. Setiap hari, tiap jam, tiap menit, bahkan bisa mungkin tiap detik Raka menelepon atau sms Amel. Dengan kemapuan bermanis ria dan membual kesana kesini maka akhirnya tiga minggu kemudian Amel menerima pernyataan cinta Raka namun setelah bertemu dengannya terlebih dulu. Perlu diketahui Raka dan Amel belum pernah bertemu dan Amel tidak mau memberikan fotonya kepada Raka.
Sok sekali cewe itu, sehingga Raka membuat kesimpulan kalau dia itu tidak seindah yang dikira. Karena Amel tidak memberikan foto maka membuat Raka menganggap dia itu hanya mainan saja tidak lebih.
“Keren juga gue, ternyata gak butuh waktu lama buat ngegebet cewe. Tapi gak jelas juga tu cewe.” katanya sendiri.
Amel berjanji liburan tahun baru saat sudah tidak menggunakan putih abu-abu lagi dia akan datang ke Jogja. Raka menanggapi dengan biasa saja karena toh sekarang dia tidak terlalu mengharapkan Amel karena Amel masih dalam bayang-bayang  yang belum terlihat wujud aslinya.




My happy December


Bulan Desember yang dijanjikan Amel sangat cepat datang. Tanggal dua puluh tujuh dia memastikan sampai di Jogja karena dia merayakan Natal bersama keluarganya terlebih dahulu. Masih saja Raka menanggapi dengan biasa saja dan bahkan sebelumnya Raka malah lupa kalau Amel pernah bilang akan ke Jogja.
“Jika cantik berarti kado Natal yang indah namun jika sebaliknya berarti gue sedang apes,” Raka berucap di dalam hati karena dulu pikirannya mungkin seperti para lelaki kebanyakan yang mengutamakan kecantikan dari pasangannya, walaupun sebenarnya itu hanya untuk kesombongan semata. Hanya untuk pamer..
Satu tahun adalah waktu yang diberikan oleh Amel kepada Raka untuk bertemu dengannya karena mereka berdua satu angkatan dan sama-sama masih berseragam putih abu-abu. Namun seiringnya waktu yang ditentukan untuk bertemu sangat lama dan karena jarak yang memisahkan mereka akhirnya mereka putus komunikasi. Raka tidak pernah lagi menghubungi Amel dan begitu pula sebaliknya. Hal itu terjadi setelah enam bulan berlalu. Jadi hubungan mesra mereka mungkin hanya sekitar tiga bulanan. Cukup tragis, tapi itulah kopi darat.
Namun...
27-12-2000 ; 04:30.. tiba-tiba ponsel Raka berdering. Menyebalkan pikirnya karena masih keenakan berselimut mimpi tetapi diganggu dengan telepon sialan itu.
Dengan malas Raka mengambil handphone dan menjawab dengan berat hati.
“Halo, siapa ni?”
“Rak, masih inget gak sama Amel?”
“He Eh... elo Mel. Kenapa ya? Kok tumben?”
“Gue minta tolong jemput di Terminal ya. Gue sekarang di Jogja.”
Ternyata Amel telepon katanya dia sudah sampai di Jogja.
“Serius Mel?”
“Iya, lo bisa jemput gak soalnya gue gak ngerti jalan Jogja.”
“Iya-iya.. tunggu jangan kemana-mana dulu.”
“Aku tunggu kok..tut..tutt..” Telepon itu mati.
“Gila ternyata dia serius ke Jogja!” kata Raka masih di ranjangnya sambil bengong karena kaget.
Dia naik bis tidak naik pesawat seperti yang Raka kira. Sebenarnya Raka malas menjemputnya tetapi di satu sisi ada pikiran yang menggelitik, penasaran akan sesosok Amel yang sebenarnya.
Raka memutuskan untuk menjemputnya. Udara yang sangat dingin langsung menyerang begitu dia membuka pintu rumah. Namun ternyata rasa penasarannya mampu mengalahkan udara dingin itu. Dengan menggunakan vespa, Raka melaju dengan kecepatan pelan karena kedinginan.
15 menit kemudian Raka sampai di terminal yang Amel maksudkan di dalam telepon tadi. Namun bingung juga mau mencari bagaimana muka saja enggak ngerti. Disana ada banyak orang. Tetapi Raka tidak melihat sesosok perempuan muda apa lagi yang cakep seperti yang Raka idamkan. Kemudian dia memutuskan untuk menelepon Amel..
“Halo, dimana Mel? Gue sudah ada di  terminal ni??”
“Raka, gue ada disini dari tadi. Ni gue ada di deket warung karena tadi nunggu lo jadi laper.”
Wah doyan makan?? Jangan-jangan Amel overweight?? Pikiran Raka malah jadi tidak karuan. Ruwet kaya rambutnya yang gak jelas abiz.
Namun karena sudah terlanjur disini maka Raka memutuskan sekalian saja, kalau mau basah jangan setengah-setengah. Nyemplung aja sekalian.
“Tunggu jangan kemana-mana, gue segera kesana.”
Tidak berapa lama Raka sampai ke warung yang Amel maksudkan tadi namun disana tidak ada siapapun.
“Sial , gue dikerjain!” pikirnya di dalam hati.
Karena kesal maka Raka memutuskan untuk meninggalkan dia saja.
Saat sedang menyalakan motor tiba-tiba punggungnya serasa seperti ada yang menepuk. Segera ditolehkan kepalanya dan kemudian beradu mata dengan sesosok mata yang menurut Raka sangat indah.   
“ Gila cakep banget ni cewe!!” kata Raka di dalam hati.
Yang dilihat Raka adalah sesosok cewe dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluhan hampir sama dengan Raka, rambutnya lurus sebahu dengan kulitnya yang putih ditambah lagi binar matanya yang sangat indah. Sempurna, seperti tipe cewe yang diimpikan Raka.
“Raka ya?.. tanya makluk bening tadi.
“Iya. Gue Raka. Kamu Amel??”
“Yup. Emang lo nunggu siapa lagi?”
“Cuman elo seh. Eh, oiya ayo naek..” kata Raka sambil mencoba kill  the  nerveous.
“Kita kemana?”
“Aduh mati! Gue belom sempet pesen hotel lagi! Ni anak gue pikir cuman becanda mo ke jogja eh taunya beneran. Gimana ya?” pikir Raka.
“Ke rumah gue dulu aja Mel, sekalian gue tunjukin rumah gue biar kapan-kapan lo bisa maen langsung ke rumah. Mau kan?”
“Gak bisa langsung ke hotel ya? Soalnya aku capek nih, habis dari jalan jauh kan?”
“Emm.. Soalnya hotel disini check in kan agak siang jadi dari pada kita nunggu lama kan tambah capek jadi lo bisa nyantai dulu dirumah gue. Gimana? Tar gue langsung anter ke hotel kok..”
“Ya uda terserah kamu ajalah.”
“Sip!”
Di jalan Raka masi saja bingung hotel mana yang mau di booking. Sekarang kan masa-masa liburan jadi susah buat dapat hotel yang kosong. Dari yang kelas melati sampai bintang tujuh pun pusing... eh nah lho, kaya obat sakit kepala aja, heheheee... maksudnya dari kelas melati sampai hotel bintang lima bakal penuh.
“ Ahaa....Tar begitu sampai rumah gue harus telepon Wawan buat booking hotel bokapnya.” Pikir Raka.
Raka dan Wawan dari mulai SMP sampai SMA selalu satu sekolah hanya waktu kuliah sekarang saja yang beda. Wawan memilih jurusan pertambangan sedangkan Raka lebih memilih ekonomi karena menurutku kuliahnya sangat fleksibel.
Jarak antara rumah dengan terminal sebenarnya tidak terlalu jauh. Dengan kecepatan seperti waktu berangkat tadi akhirnya lima belas menit kemudian mereka sampai dengan selamat di rumah. Karena masih terlalu pagi maka mereka pun ngobrol di teras karena takut membangunkan yang lain.
“Mel, tar aja ya gue kenalinnya soalnya semua paling masih tidur. Oiya lo mau minum apa? Aku ambilin bentar ya..” katak Raka sambil mencoba untuk menghindar dari hadapan Amel dulu buat mengambil kesempatan telepon Wawan.
“Terserah lo aja. Yang anget boleh juga tu soalnya tadi di jalan kedinginan.”
“Siap Boz..Wait me ya..”
Bak maling mangga  Raka langsung melesat menyambar saja gagang telepon rumah. Saat matanya mengawasi gerak gerik Amel karena takut dia nguping, tangannya memencet sejumlah angka yang merupakan nomor telepon Wawan.
“Halo..” terdengar suara yang berat di seberang sana menandakan si empunya masi lima watt  tingkat kesadarannya.
“Woi.. Wan, lo bangun! Gue mo minta tolong ma elo ni prent. Penting!”
“Apa. Eh siapa ini? Gue masi ngantuk mo tidur nih!”
“Bangun!! Ah elo molor mulu! Gue Raka nih, lo bangun terus dengerin baik-baik gue. Gue butuh pertolongan lo prent.
“Ah, dasar elo Rak! Apaan? Kudu penting lho soalnya lo da ngrusak ngedate gue ma Sandra Dewi nih! Oh Sandra....”
“Kampret lo, paling Sandra Dewi kalo ketemu lo yang ada malah dia muntah-muntah liat lo. Amit-amit jabang bayi deh...hahahaa...”
“Anjrit pahit banget lo, da pagi-pagi bangunin gue pake acara menghina dina lagi!”
“Hohoho... sory prent, gue gak bisa nahan. Gini, tolong lo cek donk kamar hotelmu. Gue butuh satu pagi ini. Penting banget! Tolongin gue ya”
“Emang buat siapa? Sodaramu dateng? Emang kawinan siapa?”
“Lho kok kawinan??...”
“Kan sodaramu yang di luar kota sukanya dateng pas ada kawinan doank? Hehehee..”
“Sial lo! Ini buat Amel.”
“Amel Siapa? Kok gue belum pernah tau lo ada kenal yang namanya Amel.”
“Makanya bangun! Kemana aja lo waktu gue cerita mpe mulut gue kendur kemaren-kemaren? Udah pokoknya gue pesen satu kudu ada lho. Tapi yang paling penting gue dikasi diskon donk. Oke prent..”
“Tu monyong tau bukan kendur! Ya uda tar gue cariin terus gue call u. Tapi bayar jangan kaya dulu, bilangnya satu kamar tapi yang datang satu kampung terus akhirnya gue kasi dua kamar lagi eh lo malah cuman bayar kamar sebiji. Bangkrut gue!”
“Hehehe.. lo kan prent terbaik gue, segitu amat. Kan kamar dan seisinya masih utuh gak mereka makan jadi gak abiz to? Wakakaka... ya sudah nanti call gue ya  gak enak nih ma yayank..”
“Kambing lo! Emang lo kira keluarga lo rayap!”..tuut...tut..tut... kemudian Wawan menutup teleponnya.
“Sory ya lama..” kata Raka sambil mengantar minuman untuk Amel.
“Biasa aja kok.”
“Gimana tadi perjalanannya? Sebelumnya sudah pernah ke Jogja belum?”
“Capek. Lho kan gue pernah cerita ke lo kalo ni first time gue kesini.”
“Eh iya ding. Gue lupa, maap kalo pagi emg suka lama loadingnya.”
“Raka, ada tamu kok gak bilang-bilang mama to?” tiba-tiba terdengar sahutan suara yang mengagetkan Raka.
“He eh, ini Ma, kenalin temen Raka namanya Amel. Dia baru saja nyampai di Jogja.”
“Amel tante..” kata Amel sambil mengulurkan tangan ke arah mamanya Raka.
“Lho memangnya  Amel ini dari mana?”
“Dari Jakarta  tante.”
“Oh dari Jakarta, terus tadi naik apa kesininya?”
“Naik bis tante, sebelumnya kata Raka lebih deket jarak rumahnya dengan terminal jadi jemputnya lebih enak.”
“Iya, memang deket kok, paling cuman beberapa meter saja. Sebelumnya kok kelihatannya saya belum pernah melihat Amel ya? Sebelumnya pernah maen kerumah?”
“Amel Baru kali ini ke Jogja Tant jadi baru pertama kali ini juga maen kesini.”
“Terus kenal dengan Raka dimana?”
Belum sempat Amel menjawab tiba-tiba Raka langsung memotong pembicaraan mereka.
“Oiya Ma, nanti kita makan apa? Si Amel pasti uda lapar tu kan dari perjalanan jauh.”
“Iya ya.. ya sudah tante tinggal dulu buat masak.”
“Iya Tante maaf sudah merepotkan.” kata Amel karena sebenarnya dia juga sedang kelaparan berat.
“Inah, sayurannya di cuci terus di potong ini aku mau goreng ikan dulu.” Kata Mama Raka saat menyuruh Bi Inah pembantu yang sudah sepuluh tahun ini setia membantu di keluarga Raka.
“Rak, gue gak enak kalo ngrepoti mamamu.”
“Kalo ngrepoti tu lo suruh mijit, nyuci, ngepel, dan kawan-kawannya itu. Nah kalo gitu mah gue juga ogah emang lo kira rumah ini khusus isinya pembantu, huuu...”
“Hahahaa.. kalo itu mah pantesnya juga cuman elo lagi.”
“Maksud lo!...” kata Raka sambil mukanya kecut karena diledeki. Akhirnya mereka pun tertawa lepas.
“Rak, emang lo punya berapa sodara?” tanya Amel sambil memegang pinggiran bingkai foto keluarga Raka.
“Gue ada tiga sodara termasuk gue. Yang pertama kakak gue cewe tetapi dia udah merit kemaren. Gue anak kedua dan yang itu ade gue namanya Vini.” Jawab Raka sambil menunjuk satu persatu anggota keluarganya.
“Cantik juga ade lo, masih sekolah?”
“Yup. Baru masuk SMA tahun ini.”
”Terus Kakak lo?”
“Dia namanya Venda, sekarang tinggal di Bandung ikut suaminya.”
“Oh.. jadi di rumah cuman bermpat donk?”
“Eit, salah. Kan ada Bi Inah.” Jawab Raka sambil kemudian mereka mulai menceritakan kehidupannya masing-masing.
Dua setengah jam kemudian.
“Raka, ajak Amel makan yuk. Sudah ditunggu yang lain lho.” Belum sempat mereka meneruskan cerita yang mulai seru itu tiba-tiba Mamanya Raka memanggil untuk mengajak makan.
Ternyata di meja makan sudah lengkap. Ada Vini juga Ayah Raka yang tampak sedang asyik meminum segelas kopi dengan koran di tangannya sambil kursinya agak di mundurin untuk memberikan ruang supaya dia dapat membaca koran dengan nyaman.
Setelah semua lengkap di meja makan maka Ayah Raka menutup korannya dan sekarang matanya tertuju kepada Amel.
“Temennya Raka?”
“Iya Om..”
“Pasti cwenya Raka tu Pa..” Kata Rini ikut nyerobot.
“Bener tu Rak?”
“Sudah Pa, kita makan dulu keburu dingin.”
Akhirnya mereka makan pagi bersama-sama seperti sebuah keluarga yang bahagia.
Dua puluh menit kemudian mereka telah selesai makan. Ayah Raka langsung mengajak Raka dan Amel untuk ngobrol di ruang tamu.
“Tadi namanya siapa, Om lupa?”
“Amel Om.”
“Oh Amel. Ngomong-ngomong temennya Raka dari mana ya? Kok pagi-pagi sudah kerumah?”
“Iya Om, maaf ini saya merepotkan. Saya baru saja datang  dari Jakarta Om. Tadi saya dijemput Raka dan katanya disini hotel belum bisa check in jadi dari pada nunggu di jalan maka saya diajak kesini.”
“Eh, iya kan Pa? Kalo pagi hotel belum bisa check in kan? Potong Raka karena takut ketahuan.”
“Siapa yang bilang nggak bisa? Bisa saja asal kita sudah memesan.”
“Oh, aku kira belum bisa Pa. Tahu gitu kita tadi langsung ke hotel saja bisa ya?” kata Raka pura-pura tidak tahu sambil memperlihatkan raut awajah polos ke arah Amel.
Tiba-tiba terdengar ringtone lagu Radiohead yang high and dry dari ponsel Raka.
“Bentar ya Mel” kata Raka diikuti dengan langkahnya pergi mangambil ponselnya.
“Halo, gimana prent? Pokoknya lo kudu kasi kabar baik, gue gak butuh kabar yang lain!” Raka langsung nyembur  begitu dia menjawab telpon itu karena seperti sudah ditebak bahwa yang nelepon itu Wawan teman sejawat yang sama-sama sableng.
“Woi-woi.. take it easy bro... Elo tu ya gue nelepon bukan disambut welcome nyapa good morning kek ato selamat pagi temen terbaikku eh ini malah langsung di sembur.”
“ Udah, nanti aja . ini penting banget! Ambulance, UGD!.. eh salah maksudnya urgent banget nih! Lo dapet  kamrnya kan?”
“Semua bisa diatur. Jangan nyebut nama gue Wawan kalo masalah kecil itu saja gak bisa. Tapi lo berani bayar berapa? Tinggal kelas premium yang paling mahal.”
“Ah elo, sama aja donk gue gak bisa ambil. Lo tau sendiri kan duit gue berapa?”
“Hahahaa, kidding kale. Tu tarif gue kasi seperti biasa. Tu lo dapat kamar di kamar yang kemaren. Tadi gue da ngomong bokap.”
”Sip, lo emang top jack! Tankyu banget ye..”
“Wawan! Nama gue Wawan bukan jack!”
“Sama aja, mo wawan, mo kambing yang penting gue tankyu berat ma lo prent!”
“Dasar elo!” Raka kemudian menutup telepon dan kembali menemui Amel yang sedang asyik ngobrol dengan ayah dan mama Raka.
“Ngobrolin apa nih? Kayanya seru amat?”
”Telepon dari siapa Rak? Tanya mama Raka.
“Wawan Ma.”
“Emang ada apa dia? Kok enggak mampir kerumah.”
“Katanya lagi sibuk. Gak tau tuh gak jelas anaknya. Oiya Mel, ayo gue antar ke hotel dulu biar kamu bisa istirahat.”
“Lho Mama kira mau nginep disini? Memangnya mau nginap dimana? Sudah dapat hotelnya?”
“Sudah kok Ma. Nanti kalo disini Amel takut merepotkan.” Jawab Raka sambil melihat Amel yang tersenyum sopan kepada mamanya Raka.
“ Terus kalian mau nginap dimana?” kali ini gantian Papanya Raka ikut bertanya.
“Biasa Pa. Mau dimana lagi. Tahun baru begini semua hotel penuh.”
“Di hotelnya Wawan?”
“Yup. Sudah ya Pa Ma, Raka nganter Amel dulu kasihan dia keburu capek.”
“Om Tante, saya pamit dulu ya..”
“Iya. Raka ati-ati di jalan jangan ngebut-ngebut!” pesan Mama Raka.

Setibanya di hotel kira-kira tiga puluh menit dari rumah Raka ternyata di lobi Raka suda di sambut si empunya hotel yang sama-sama sableng.
“Oh, jadi ini Rak. Elo tu ya, pantes pagi-pagi ganggu molor gue pake bilang penting banget. gue pikir buat sodaramu lagi kaya kemaren gak taunya malah begini tingkah lo..”
“Ssst.. bacot lo di kecilin dikit donk. Awas kalo lo bikin gue tengsin. Gue gak bakal bayar lagi!”
“Anjrit, ancamannya gitu. Huh, tar gue yang diomelin bokap. Eh terus namanya siapa tuh?”
“ Tu mah derita lo. Lo kan anaknya, hahaha... Tadi gue kan da bilang  namanya.”
Mereka berdua saling berbisik di depan lobi agak menjauh dari Amel supaya dia tidak mendengar percakapan mereka.
“Amel, sini bentar. Ini kenalin namanya Wawan dia tu calon ahli waris hotel ini.”
“Sial lo, kayanya bokap gue da gak punya waktu lama aja!”
“Amel...” Amel menjabat tangan Wawan sambil cekikikan karena kata-kata Raka tadi.
“Wawan.. Kamu cewenya Raka?
“Eh..Bu..” belum sempat Amel menjawab Raka langsung saja memotong, “Uda nanti aja ngobrolnya lo pasti capek kan Mel semaleman di perjalanan.”
“Iya, ayo silahkan. Kamarnya ada di lantai dua.” Kata Wawan sambil mempersilahkan tamunya ini.
“Udah gak usah dianter gue juga udah paham betul sampe ke lubang cacingnya hotel ini. Yuk Mel kita naik.”
“Awas lo, tar gue mo buat perhitungan ma lo.” Kata Wawan sambil menatap Raka jengkel.
“Udah itungannya belakangan biar sama bonnya aja sekalian..” jawab Raka sekenanya karena geli melihat sahabatnya itu  manyun.
Akhirnya mereka semua ketawa.
Raka segera meraih dan membukakan pintu saat mereka tiba di kamar yang telah dipesan sebelumnnya.
“Makasih”
“ Lo ini kaya ma siapa aja. Nyantai aja kali.”
“Lho kan katanya kita harus selalu mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang sudah mau membantu kita.”
“Iya deh, sama-sama. Udah sana lebih baik kamu mandi terus istirahat dulu. Sekarang aku tinggal, terus nanti siang kesini buat makan siang terus jalan-jalan. Kamu belum pernah jalan-jalan disni kan?”
“Belum. Iya deh. Makasih sekali lagi ya Rak..”
“Gak usa sungkan. Ya udah met mandi and met bobok ya.” Ujar Raka dengan lembut sambil menuju pintu kamar dan kemudian menutupnya dengan tenang.
Sesampainya di bawah, lebih tepatnya di lobi.
“Gimana Rak? Gue pikir lo ikut tidur disana. Gue sempet was-was tau tar takutnya hotel gue digrebek cuman gara-gara lo mesum disini.” Teriak Wawan yang sudah stand by menunggu kedatangan Raka.
“Kampret lo, gue tau dirilah. Lagian bacotmu tu lo penuh sampah! Jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Tengsin gue!”
“Cieh.. siapa yang bakal denger. Liat tu sekitarmu. Tinggal orang bule semua mana tau mereka ma bacot gue.”
“Lho siapa tahu ada diplomat yang dikirim dari jaman penjajahan makanya di sampai apal bahasa Indonesia. Lo tu kebanyakan nonton Buser sih, otak lo tu jadi kotor.”
“Kaya otak lo kinclong aja. Lo ma gue tu gak beda sama-sama dangkal. Ibaratnya aliran air  uda kaya comberan, hahaha..”
“Ah buat lo aja deh, gue mah makasi aja ma elo, gue kasi semua ma elo..”
“Sial! Lo kira Wajik bisa dibagi-bagi..” Jawab Wawan sambil ketawa diikuti Raka yang sama-sama geli dengan percakapan mereka.
Karena rumah Wawan letaknya tidak jauh, hanya beberapa meter di belakang hotel maka Raka memutuskan untuk ke rumah Wawan saja sambil nunggu Amel bangun.

10.30 alarm di dalam jam tangan Raka berdering.
“Wan gue, jemput Amel dulu ya”
“Jam segini?Emang lo mo ngajak makan dimana?”
“Nah, itu masalahnya prent, dompet gue kemaren kena badai Katrina kaya di Amrik sana jadi sekarang cuman tinggal berapa lembar aja. Masak gue ajak Amel makan bakso di tempat Bang Udin di bawah pohon sana. Kan gak seru tuh?”
“Ogah!.. Pasti maksud lo mau pinjem duit kan? Ogah, ni mo gue buat acara tahun baru besok!”
“ah elo pelit amat ma temen.. Gue kemarin baru aja beli sepatu baru. Keren banget jadi gue gak tahan buat gak ngebeli.”
“Biar, kalo ma elo emang pantes, lagian lo juga ngapain beli itu. Kan lo uda tahu kalo Amel bakal dateng kan?”
“Gue lupa kalo dia bakal dateng. Gue pikir kemaren dia cuman becanda.”
“Elo tu ya, bego dipelihara. Eh, sekalian aja gue ingetin pokoknya besok gue juga gak mau tanggung kamar hotelnya. Lo kudu bayar!..”
“Hahahaa... Segitunya lo. Tenang prent gue ada duit kok. Kemarin walaupun lupa tapi gue sempet nabung. Tadinya mau buat beli audio tapi terpaksa gue pending tu audio terus duitnya buat nraktir Amel aja.”
“Huh, abiz lo kebiasaaan seh...” jawab Wawan sambil manyun karena sahabatnya ini kelakuannya dari dulu memang seperti iut. Selalu saja menggampangkan semua persoalan. Dulu mereka pernah jalan di sebuah mall. Karena melihat restoran masakan jepang yang baru saja buka, Raka pun mengajak Wawan untuk mencoba masakan disana. Namanya saja restoran masakan Jepang, disana dari mulai nama dan harga semuanya memakai istilah di dalam bahasa Jepang. Raka pun dengan tampang sok tahunya memesan beberapa makanan. Saat ditanya makanan apa yang di pesan terus harganya berapa karena Wawan sedang tidak bawa uang banyak, maka Raka pun menjawab enteng, “Tenang kalo ada gue mah semua beres.” Wawan pun percaya dengan sahabat sablengnya itu. Kemudian makanan yang dipesan pun sudah siap di meja. Dengan lahap mereka memakannya. Meskipun rasanya agak sedikit aneh bagi yang belum terbiasa dengan masakan Jepang, namun kedua orang itu kelihatan sangat menikmati meskipun mereka juga baru pertama kali makan masakan Jepang. Mereka beralasan jika perut laper semua pasti masuk.
Setelah beberapa saat mereka akhirnya selesai makan. Karena perut yang langsung menjulang bak bukit Raka memundurkan kursi sedikit biar sedikit lebih lega buat perutnya. Tindakan itu lalu diikuti oleh Wawan, kemudian di bertanya kepada Raka karena dia penasaran Raka membawa uang berapa. Tanya Wawan,”Rak, emang Lo bawa duit berapa? Kita uda makan banyak banget lho. Ni di dompet gue cuma ada duit dua ratus ribu. Gak lebih gak kurang. Tar takutnya duit kita gak cukup soalnya yang gue tahu masakan Jepang itu lebih mahal.?” Lalu Raka pun menjawab dengan enteng, “Nah itu lo bawa duit banyak. Tenang Wan, gue bawa dua ratus juga kok. Kalo makanan kaya gini mah di warung Bu Darmi ada. Jadi paling-paling harganya gak jauh beda.”
Warung Bu Darmi terletak di sebelah SMA Raka dan Wawan dulu. Warung itu terkenal agak mahal karena katanya bahan baku masakan ikannya di impor langsung dari Jepang. Padahal Raka dan Wawan pernah melihat Bu Darmi belanja ikan di pasar Gede.
Karena telah selesai, mereka pun segera minta bon yang harus dibayar. Betapa terkejutnya mereka karena mereka mendapati tulisan di bon menunjukkan angka delapan ratus ribu rupiah. Akhirnya Wawan tertunduk pasrah. Melihat temannya seperti tinggal menunggu eksekusi ini maka Raka pun dengan sok bijaknya menghampiri dan memberikan petuah-petuah yang sebenarnya enggak penting. Tetapi Wawan tidak menanggapinya meskipun temannya itu sudah berbusa mulutnya.
“Tu kan apa gue bilang. Nyantai aja kalo sama gue.” Kata Raka tiba-tiba. Selanjutnya dia mengajak Wawan untuk pergi menghampiri meja di paling sudut restoran itu. Disitu duduk pasangan suami istri yang kira-kira berumur empat puluhan. Dengan santainya Raka langsung duduk di depan mereka dan langsung menyapa. Berlagak sebagai wartawan yang sedang melakukan survei romantisme pasangan suami istri dua ribu delapan maka Raka pun terlihat seolah-olah mewawancarai sambil terkagum-kagum.
Sepuluh menit dirasa cukup kemudian Raka pun pamit untuk pulang dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.
Karena dirasa bahwa Raka adalah wartawan yang sopan maka pasangan suami istri itu melepas Raka dengan senyuman. Raka pun membalas dengan senyuman sambil pergi ke arah Wawan yang dari tadi dia tetap saja duduk di kursinya.
“Beres.” Kata Raka pada temannya itu. Kemudian dia mengajak Wawan pergi karena makannannya sudah dibayar oleh pasangan suami istri tadi yang diakunya teman dari orang tuanya Raka. Kasir di resotaran tersebut sebelumnya tidak percaya tetapi Raka kemudian seolah memanggil dari jauh pasangan suami istri tersebut lewat lambaian tangan dan kemudian tersenyum. Setelah kasir restoran itu merasa yakin baru dia melepaskan mereka. Dengan santai Raka melangkah kemudian setelah agak jauh dari restoran tersebut maka Wawan bertanya sebenarnya rekan orang tuanya yang mana. Raka pun cerita semua dan Wawan hanya bisa geleng kepala atas kegilaan temennya itu.
Kembali ke masalah tadi, karena ini merupakan first date Raka maka dia pun kudu menampilkan performance terbaiknya. Raka memutuskan untuk pulang, mandi dan berdandan seTom Cruise (maksudnya sekeren tu bintang pilem...).
Hampir satu jam lamanya Raka di kamar mandi sampai-sampai mamanya heran karena biasanya Raka itu susah disuruh mandi atau bisa dibilang jarang mandi.
“Ah, wanginya body gue.....”
“Mo kemana kamu Rak?”
“Ini  Mam, mo makan.”
“Tumben, makan aja sampai mandi lama banget gitu. Bentar biar Mami siapin sekalian buat Papimu.”
“He eh, enggak Mi. Gak usah. Raka mo makan bareng Amel di luar.”
“Oo... Pantes tu sabun ma pembersih Mami suka abis sebelum waktunya. Ternyata buat persiapan ketemu ma cewe-cewe ya...”
“Persiapan tempur Mam...” jawab Raka sambil ngloyor pergi ke kamarnya untuk ganti baju.
Setengah jam waktu yang dibutuhkan Raka untuk mempersiapkan penampilan terbaiknya setelah hampir semua baju dan celana yang ada di dalam lemarinya dia coba satu persatu untuk mendapatkan padu padan terbaik. Meski baju-bajunya bisa di bilang berkelas dan mahal namun saat ini tidak terlihat demikian. Raka merasa dia tidak mempunyai baju cukup yang bagus yang pas untuk first datenya ini.
Setelah merasa sangat oke, dia pun berpamitan dan kemudian menyalakan CJ 7 nya yang di parkir bersebelahan dengan Livina papanya.
Saat tiba di hotel, Raka langsung menuju ke kamar Amel. Dadanya serasa bergemuruh saat dia sampai tepat di pintu kamar. Lima menit adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan nyalinya.
“Eh Rak, ayo masuk.”
“Iya. Mel, lo...eh kamu uda mandi kan?” jawab Raka masi diliputi Rasa grogi.
“Udah donk. Oiya kita mau makan kemana jadinya?”
“Oh itu, uda tenang pokoknya aku ada tempat yang enak.”
“Ya sudah kita langsung berangkat aja, uda laper nih.”
“Siap boz...” jawab Raka bak hulubalang yang memberi hormat kepada sang putri.
Setelah lima belasmenit kemudian mereka pun sampai di tempat makan.
“Ini Mel tempatnya, seafoodnya enak banget. Oiya kamu gak ada alergi ma makanan laut kan?”
“Enggak kok. Sayang donk makanan enak gak dimakan”
“Ah bisa aja..”
“Kamu mo pesen apa? Disini cumi saus tiramnya jagoan banget lho. Mau coba?”
“Iya de, penasaran juga. Sama ini aku mo coba sate udang donk terus minumnya lemon tea aja. Ngomong-ngomong unik juga masakan disini.”
“Siip. Makanya aku sering makan disini. Selain unik tempatnya juga bagus.”  Kata Raka sambil menyerahkan daftar pesanan kepada pelayan restoran tersebut.
“Iya, lumayan. Kamu pasti sering bawa cewemu kesini ya?”
“Eh.. Enggak, siapa yang bilang. Orang masi jomblo dibilang punya cewe. Biasa juga sama Wawan tu. Ni first time aku bawa cewe kesini.”
“Ah yang bener...”
“Enggak... hehehe, becanda. Bener kok kalo disini ya baru sama Amel.” Jawab Raka sambil berusaha sepolos mungkin.
“Lho kok gitu??...” Mereka pun kemudian tertawa dan asyik dengan obrolan yang seru sambil makan.
Akhirnya mereka selesai makan. Perjalanan mereka lanjutkan dengan berkeliling kota. Karena Amel baru sekali ke Jogja maka dia sangat senang menerima ajakan Raka untuk berkeliling kota. Malioboro, Kraton, Tamansari sampai akhirnya mereka ke pantai Parangtritis untuk menikmati pemandangan sunset.
“Kamu senang Mel?”
“Tentu saja. Ternyata Jogja tu indah ya..?”
“Ini baru sebagian kecil yang kamu lihat. Masih ada banyak seperti Kaliurang, Kotagede, Candi Borobudur dan lain-lain.”
“Iya, aku pengen tu ngeliat Candi Borobudur secara langsung. Besok kita kesana ya?”
“Sip.”
Mereka pun semakin larut bercerita sampai mentari benar-benar pergi meninggalkan bumi dan berganti dengan bulan. Malam ini langit sangat cerah sehingga bintang pun seakan bergantian berkedip secara random sehingga membuat tatapan mata yang ada di bawahnya tidak pernah berhenti untuk mengagumi.
Malam pun melarutkan suasana Amel dan Raka. Setelah selama ini mereka masih asing satu dengan yang lain sekarang mereka mulai mencair dan obrolan pun menjadi hangat. Karena kecapekan maka Amel pun bersandar di bahu Raka dan Raka pun memeluk Amel supaya Amel dapat merasa nyaman.    
23.45, begitu angka yang tertera di jam tangan Raka.
“Mel, kita pulang yuk biar kamu bisa istirahat.”
“Emang sekarang jam berapa jam sembilan uda ada?”
“Udah sayang, sekarang malah hampir tengah malam.” Jawab Raka tetapi langsung menutup mulutnya karena kelepasan ngomong sayang.
“Mulutmu kenapa Rak?”
“Eh enggak kok. Gak ada papa. Kita pulang sekarang yuk.”
“Yuk. Rak, kamu mikir apa yang aku pikir kan?”
“Apaan??”
“Enggak, aku bilang sekarang pulang aja.”
Akhirnya mereka pergi menuju tempat parkir mobil. Di jalan entah disadari Amel atau tidak tetapi mereka berdua selalu bergandengan tangan dan dengan mesra Raka sesekali memeluk Amel sembari bercerita kesana kemari.
Hampir setengah jam perjalanan dari pantai hingga samapi di hotel.
“Raka besok kita mau kemana?”
“Borobudur terus...kita jalan-jalan ketempat yang seru.”
”ya sudah aku tidur dulu ya. Rak...makasih ya..”
”He eh, iya sama-sama. Met bobo Mel...”
Di waktu yang sama di kamar masing-masing, baik Raka maupun Amel tidak dapat tidur karena terus menerus mikirin kejadian di pantai tadi. Raka yakin dia tadi mendengar jika Amel bilang dia mikirin apa yang dia pikir. Tadi dia berpikir dia mulai sayang Amel.
“Berarti tadi Amel bilang kalo dia juga da mulai suka gue donk.” Kata raka di dalam hati.
Amel pun merasa ada sesuatu yang berbeda di dalam diri Raka yang membuat dia menarik. Namun entah apa itu karena dia sadar dia baru sehari ketemu. Belum pernah ada dalam sejarah hidupnya dia suka orang pada pandangan pertama. Sebelumnya sewaktu chatting dia juga tidak pernah merasa suka pada Raka. Dia hanya ingin sekedar iseng aja, tidak ada perasaan yang timbul sedikit pun karena dia tidak percaya pada pacaran di dinia maya. Amel adalah wanita yang independent, moderat dan tipe mandiri. Berkarakter tegas,kuat dan tipe wanita yang tidak bakal mau berada di bawah lelaki. Karena karakternya yang demikian kuat menjadikan Amel terkadang menjadi sosok yang galak sekaligus cuek di mata lelaki kebanyakan. Namun, sebenarnya dia itu lembut dan sangat menyenangkan untuk diajak curhat.
Terlepas dari itu semua Raka sepertinya sudah benar-benar jatuh cinta.
06.00 WIB Weker di kamar Raka berdering terus dengan kencangnya.
“Raka lo budek apa. Tu weker matiin dulu! Gue masi mo molor ne, ini hari gue libur tau!...” teriak Vini yang jengkel karena tidurnya terganggu dengan weker dari kamar Raka karena posisi kamarnya persis di sebelah kamar Raka.
“Raka, elo bener-bener ya!..” teriak Vini lagi sambil beranjak pergi ke kamar Raka. Namun betapa herannya dia tidak menjumpai kakaknya itu di kamarnya.
“Napa lo Vin?” kata Raka tiba-tiba dari belakang Vini yang membuat Vini pun kaget.
“Lo dari mana, eh lo mandi ya? Tumben emang jam berapa sekarang.”
“Mandi. Jam enam kali. Kenapa?”
“Yaelah masi jam enam, gue kan mo bangun jam tujuh. Huh, gara-gara wekermu gue jadi bangun pagi deh. Padahal hari ini kan libur!” kata Vini sewot.
“Salah lo, kenapa kaya kebo, hahahaha....” Jawab Raka sambil ngeloyor masuk kamarnya terus langsung menutup pintu.
“Raka nyebelin!..” teriak Vini sambil ngoloyor pergi kembali ke kamarnya.
Suitan Raka tidak berhenti karena hari ini hari yang spesial buat dia. Sebenarnya hari-hari bersama dengan Amel buatnya sangat spesial. Dia sempat menyesal kenapa dulu tidak percaya kalo Amel tu cantik. Padahal jika dulu dia tau kalo Amel cantik, tidak usah nunggu lama saat Amel ke Jogja baru bertemu tetapi dia yang bakal ke Jakarta untuk ketemu dengan Amel. Tetapi saat ini belum terlambat, dia masih bisa untuk menyatakan cinta sekali lagi supaya mereka benar-benar pacaran.
Jam tujuh tepat Raka sudah dalam posisi ready buat ngapel. Padahal jika ada kuliah pagi walaupun jam sembilan sekalipun dia pasti terlambat.
Klimis banget dan amat sangat wangi hingga radius lima kilometer mungkin bisa mencium wangi Raka. Raka pun dengan mantap berkaca sekali lagi mengagumi dandanannya itu.
“Mami...ada hantu...” terdengar teriakan vini yang sangat heboh. Vini pun segera loncat dari ranjangnya dan pergi ke dapur karena di situ pasti sudah ada maminya yang sibuk memasak dengan Bi Inah.
“Ada apa?”  tanya mamanya
“Non Vini kok mpe lari-lari gitu? Emang hantu apa Non..?” Bi Inah pun heran dengan Vini.
“Itu Ma, tadi Vini lagi tidur eh tiba-tiba mimpinya aneh terus ada bau-bau wangi gitu. Nah pas Vini bangun bau itu masi ada dan tambah menyengat. Hiii...merinding banget Ma, kayanya tu hantu ada di kamar Vini deh..” belum sempat mamanya menjawab tiba-tiba,
“Vin, kenapa lo. Bikin heboh aja?” Raka nongol dari balik pintu.
“Bentar Ma,..” Vini yang berlagak sok anjing pelacak mengendus-endus baju Raka.
“nah ini dia baunya.. Gak salah lagi....Hiii..mama takyuuuut...”
“Sial lo! Enak aja bau gue di samain bau setan, ni parfum mahal tau!” jawab Raka yang gantian sewot.
“Yeee, sapa suruh pagi-pagi bikin bau yang gak banget. Da kaya film hantu kunti lo...”
“Dasar lo kebo, gak pernah cium bau wangi sih. Udahlah, Ma, Raka pegi dulu ya..”
Mamanya Raka dan Bi Inah pun tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan Raka dan Vini.
“Pagi bener, mau kemana Rak?”
“Nganter Amel jalan-jalan Ma.”
“Nganter aja mpe wangi banget. Ya sudah ati-ati.”
“Biasa Ma, namanya juga anak muda. Oiya nanti Raka pakai cielonya ya. Raka pergi dulu ya Ma..” jawab Raka sambil berjalan pergi.
Mobil sedan itu terparkir rapi di antara deretan mobil tamu yang lain di parkiran depan hotel Mercure. Bak Andy Lau di Film God of Gambler Raka berjalan, sampai akhirnya karena gayanya yang super keren itu dia sampai dikira artis oleh tamu hotel dari Nigeria. Nah, karena bahasa Inggrisnya yang super mepet maka sekarang dia ganti bermain peran menjadi Desy Ratnasari dengan menjawab “No Comment” setiap di tanya sesuatu.
Bukan Raka namanya jika tidak berhasil mengelabuhi orang, turis dari Nigeria itu pun sempat geleng-geleng. Meski tidak tahu arti gelengan kepala itu, apakah dia kagum atau malah mencaci tapi Raka tidak ambil pusing. Dia menganggap turis itu ngefans.
“Gile, turis aja ngefans ma gue, pa lagi Amel... Pasti dia langsung mau gue ajak merrit, hahahaha....” gumam Raka sambil jalan.
Akhirnya Raka dan Amel pergi berkeliling melihat keindahan kota pelajar ini lebih jauh.


Accidental


Pada hari ketiga Amel di Jogja. Tiba-tiba memutuskan secara mendadak harus pulang ke Jakarta. Hari itu Raka yang sejak jam 8 sudah di hotel...
“Raka, sory gue besok kudu balik ke Jakarta.”
“Memangnya kenapa? Bukannya lo janji mo tahun baru disini?”
“Rak, gue gak bisa. Sory, gue ngerti kalo lo kecewa ma gue tapi gue bener-bener gak bisa.”
“Kenapa Mel? Soal duit? Tenang gue bisa jamin lo kok..”
“Bukan Rak, ada sesuatu yang gak bisa gue omongin sama lo. Rak, saat-saat di Jogja ini gue ngrasa hapy banget. Gue ngrasa ini hal terindah dalam hidup gue. Apa lagi ada elo, makasi Rak, lo da buat hidup gue lebih berwarna. Tapi gue harus pergi..”
“Mel, gue gak ngerti lo kenapa. Tapi jika memang itu keputusan lo, gue mo bilang apa lagi...”
“Thanks Rak.. oiya satu hal lagi, gue sayang lo Rak..”
“Gue juga sayang lo Mel..” jawab Raka sambil kemudian memeluk Amel dengan erat seolah tidak rela membiarkan Amel pergi meninggalkannya.
Dua jam kemudian, Amel sudah selesai berbenah. Kemudian Raka mengantar Amel ke bandara. Karena mendadak maka jadwal penerbangan penuh, namun untung saja Amel mendapat tiket siang itu juga.
“Rak, gue pasti balik ke Jogja. Besok-besok lo juga kudu maen ke Jakarta ya.. Ini alamat rumah gue. Besok kalo mau maen lo kabari gue ya..”
“Pasti Mel, gue pasti kesana. Jika gak bisa tahun baru, mungkin Januari gue kesana. Oiya nanti kita telepon-teleponan or sms or chat ya.. Mel..thanks lo da percaya ma gue...”
“Iya. Bye Rak...”
“Bye...”
Akhirnya pesawat yang membawa cinta Raka pergi meninggalkan bumi Jogja. Meski sangat sakit namun Raka percaya cintanya itu pasti kembali.


















Love is sick


Januari, Febuari, hingga Maret hari-hari pun berlalu dengan cepat. Dari semua telepon, sms, email Raka kepada Amel tidak ada yang di balas. Raka sendiri pernah janji kepada Amel jika dia akan ke Jakarta pada bulan Januari. Namun Amel tidak pernah memberi kabar. Sehingga Raka memutuskan untuk menunda hingga Amel memberi kabar. Bermacam-macam pikiran pun bergelayutan di otak Raka. Sampai akhirnya Raka memutuskan untuk pergi ke Jakarta.
Mumpung di bulan ini ada liburan semester, maka Raka memutuskan pergi ke Jakarta dengan sesegera mungkin.
Dengan berbekal alamat yang pernah Amel berikan maka Raka pergi ke Jakarta.
Sesampainya di Jakarta, Raka menjumpai Rumah elit di kawasan Pondok Indah.
“Ini dia rumah Amel. Alamatnya memang disini, berarti memang ini. Gak salah lagi... Gede juga ni rumah..” gumam Raka sambil bolak-balik membaca secarik kertas yang berisi alamat yang diberikan oleh Amel.
Raka pun memutuskan untuk masuk karena kebetulan pintu gerbannya dalam kondisi terbuka. Dengan segera dia mengetuk pintu tersebut.
“Permisi..” teriak Raka.
Tiba-tiba pintu rumah itu terbuka dan muncul sesosok laki-laki paruh baya.
“Iya, mau cari siapa ya?”
“Maaf Pak mengganggu, Amelnya ada.” Jawab Raka sopan.
“Amel siapa ya?”
“Amelia Christianti. Benar rumahnya disini kan?”
“Maaf ya mas, disini tidak ada yang namanya itu.” jawab bapak itu.
“Tapi Pak.. Jadi begini ya Pak, saya Raka temannya Amel. saya dari Jogja dan saya kesini karena saya diberi alamat ini oleh Amel. Coba bapak periksa, benar disini alamatnya?” tanya Raka.
“Kalau alamatnya sih benar disini, tapi yang namanya Amel itu tidak ada. Oh mungkin penghuni yang lama. Saya ini juga masih baru sebulan disini.”
“Maaf Pak, Bapak tahu penghuni yang lama pindah kemana?”
“Wah saya juga tidak tahu, coba saja tanya ke satpam komplek barangkali dia tahu.”
“Ya sudah saya tanyakan dulu. Trima kasih Pak.” jawab Raka sambil pergi meninggalkan  rumah itu menuju pos satpam.
Akhirnya di dapat informasi jika memang benar Amel dulu tinggal disitu namun karena kesulitan keuangan maka mereka pindah ke daerah Sunter.
Dengan berbekal alamat yang di dapat dari satpam komplek tersebut maka Raka pergi mencari hari itu juga. Karena ketidaktahuan lokasi maka pencarian itu berlangsung hingga akhirnya jam menunjukkan jam 7. Setelah makan dan numpang mandi di salah satu Mall, maka Raka memutuskan untuk mulai melakukan pencariannya lagi. Hingga kahirnya jam menunjukkan pukul 9 Raka menemukan rumah seperti yang tercantum di alamat itu.
Rumah itu sederhana sekali sangat jauh dari rumah yang pertama yang Raka jumpai tadi dan letaknya masuk ke dalam perkampungan yang sempit. Akhirnya Raka memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
“Permisi...”
“Iya.” Pintu pun dibuka oleh wanita yang meski sudah berumur namun dari rautnya masih menampakkan sisa-sisa kecantikan masa remajanya namun seolah terbenam oleh guratan-guratan  karena terlalu banyak memikirkan masalah yang sangat berat.
“Maaf Ibu, apakah benar alamat ini tepat di rumah ini?” tanya Raka sopan sambil menunjukkan secarik kertas yang dia dapat dari satpam komplek tadi.
“Iya benar, anda ini siapa ya dan ada keperluan apa?”
“Maaf  Ibu kalo saya mengganggu, nama saya Raka. Saya merupakan teman dari Amel, saya disini mau bertemu dengan Amel. Apakah Amel ada disini Bu?” jawab Raka sambil melepas topi yang dari tadi selalu menempel diatas kepalanya.
Tiba-tiba ibu itu langsung menangis dan mendekap Raka. Dia lalu menyuruh Raka untuk masuk ke dalam. Karena tidak mengerti apa yang terjadi maka Raka menurut saja kemauan dari ibu itu.
“Kamu sudah makan Nak?”
“Sudah Bu, saya tadi sebelum kemari sudah makan. Oiya kalau boleh tahu Amel dimana Bu?”
“Oh sudah makan. Berarti tadi dari Jogja langsung? Kok bisa tahu alamat disini?” jawab ibu itu seolah mengalihkan pertanyaan Raka.
“Iya. Tadi saya sempat ke Pondok Indah dulu, kemudian karena tidak ketemu maka saya coba untuk tanya ke satpan di komplek dan dia memberi alamat disini.”
“Parjo, itu nama satpam itu. Iya, cuma dia yang saya kasih alamatnya. Kalau begitu kamu menginap disini dulu saja. Besok kita ke tempat Amel..”
“Memangnya Amel kemana Bu?”
“Sudah, kamu tidur aja di kamar Amel. Maaf ya rumahnya kecil.”
“Gak papa Bu, saya malah terima kasih sudah diijinkan untuk menginap karena saya sendiri dari tadi juga bingung mau cari penginapan dimana.”
“Ya sudah kamu istirahat di kamar sana.”
Betapa terkejutnya Raka karena saat di kamar Amel, foto-foto Raka dan Amel saat di Jogja terpajang sangat banyak. Baik di bingkai besar maupun di bingkai-bingkai mungil.
Disitu Raka melihat Amel kecil yang tomboi namun imut. Dan foto-foto yang lain yang membuat Raka menjadi sangat kangen dengan Amel.
Pagi harinya, Raka memutuskan untuk bertanya kalau perlu agak sedikit memaksa supaya mama Amel mau memberi tahu Amel sekarang dimana.
Dan oleh karena desakan Raka akhirnya mamanya Amel mau menunjukkan Amel dimana. Mereka pun pergi dengan menggunakan angkutan umum.
“Kita pergi kemana tante?”
“Kita pergi ke rumah Amel.”
“Rumah Amel??” Raka bingung dengan jawaban mamanya Amel tadi. Jika Amel sudah mempunyai rumah sendiri kenapa mamanya tidak diajak. Apakah Amel menjadi Amel Kundang? Atau yang lebih parah lagi Amel sudah mempunyai suami. Dan suaminya tidak mengijinkan mamanya untuk tinggal bersama mereka. Wah, jika seperti itu, sia-sialah Raka pergi ke Jakarta. Namun apapun yang terjadi, Raka sudah siap karena tujuan dia memang mau bertemu dengan Amel. Apa pun yang terjadi...
Tiba-tiba mamanya Amel menyetop angkot itu dan kemudian turun. Area disitu jika dilihat dari papan namanya adalah area pemakaman.
Namun Raka mengikuti saja kemauan mamanya Amel, mungkin saja dia mau sekalian mengunjungi makam saudaranya. Disana Raka berdiri di samping kanan mamanya Amel dan dia sekilas membaca di situ ada nama Adrian Christanto. Itu nama Papa Amel, dan Amel juga pernah bilang jika papanya sudah meninggal saat Amel masih SMP. Saat itu Raka menunggu mamanya Amel berdoa.
Satu jam telah berlalu dan mereka masih disana. Raka pun memberanikan diri untuk bertanya
“Maaf tante, bukannya saya tidak sopan atau bagaimana. Tetapi tadi tante janji mau memberitahu Amel sekarang dimana? Boleh sekarang saya tahu Amel dimana?” tanya Raka dengan sangat hati-hati, kawatir jika mamanya Amel merasa tersinggung.
“Kamu bener mau tahu?”
“Iya tante.”
“Kamu siap?”
“Walaupun saya nanti tahu dia sudah menikah atau hal buruk yang lain. Saya siap menerima semua itu tante.”
“Dia disini?”
“Disini? Siapa? Amel maksud tante?”
“Iya.”
“Kapan? Nanti dia mau menyusul disini? Terus sekarang dia dimana?”
“Itu Amel..” jawab mamanya Amel sambil menunjukkan nisan di sebelah kiri papanya Amel.
“Aa....meel....” Raka pun tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ternyata alasan selama ini Amel tidak bisa dihubungi terjawab sudah.
Amel telah pergi. Pergi untuk selamanya.
“Sudah lama Amel menderita penyakit kanker otak, sama seperti yang diderita papanya. Tante sudah berusaha mengobati Amel ke luar negeri tapi karena biaya yang sangat besar akhirnya tante bawa pulang kembali ke Indonesia. Amel merupakan anak semata wayang tante. Desember kemarin dia minta ijin ke Jogja untuk bertemu kamu. Walaupun tante sudah larang dia karena dia tidak boleh kecapekan tetapi dia ngotot karena dia bilang, dia suka kamu. Dan sekembalinya dari Jogja kesehatannya tambah membaik, mungkin akibat dari dia merasa senang disana. Namun itu tidak bertahan lama karena kenker itu terus menggerogoti dan akhirnya pertengahan januari tante harus membawa dia ke Singapura. Akhirnya karena sudah kronis....” mamanya Amel berusaha menahan tangisnya.
“Amel sekarang sudah sembuh. Dia tidak akan sakit lagi untuk selamanya. Amel sayang.. dia sudah di surga.”
“Raka, lihat dia sedang melihat kita, melambai-lambaikan tangannya, disurga dia bahagia melihat kita orang-orang yang dicintainya. Dia sudah tenang disana Raka...”
“Iiiyaa..tante. Raka sayang Amel. Sayang sekali... “
“Mel, semoga kamu bahagia disana, aku akan selalu mencintaimu..”
Akhirnya mereka pulang. Shari sesudahnya Raka berpamitan untuk pulang ke Jogja. Saat itu mamanya Amel memberikan secarik kertas berisi tulisan terakhir Amel buat Raka.
Hidup ini suatu misteri yang tiada ada jawabnya......


-The End-
 











Tidak ada komentar:

Posting Komentar