Preambule
Sulit untuk mencoba
mengerti bagaimana ada cinta yang tak pernah terucap. Ada ketakutan dan
kemunafikan atas harga yang di dalam diri. Menyelubung seperti benteng kokoh di
istana sang raja meski seribu bayang manisnya terus menggoda. Seperti fajar
dengan petang tak akan pernah bertemu
meski selalu bersama dalam kelambu langit. Mengungkapkan rasa cinta untuk
endapkan sepi laraku saat waktu yang berlalu.. Namun saat siang pun menjadi
malam... Tidak ada yang perlu kita sesali karena aku, kamu dan mereka semua
adalah manusia....
Sebait kalimat yang
terus teringat di dalam pikiran Raka. Hari ini, Rabu tepat lima tahun setelah
kejadian itu. Amel, itu nama sesosok cewe yang membuat Raka kelimpungan tak berdaya. Dia jatuh cinta
pada pandangan pertama saat mereka berkenalan enam tahun yang lalu..
Pertengahan November
Raka berkenalan dengan Amel. Lewat chatting mereka berkenalan lalu tukar
menukar nomor handphone untuk mempermudah langkah Raka selanjutnya mendekati
Amel.
Amel tinggal di
Jakarta sedangkan Raka di Jogja.
“Cukup jauh juga.
Tetapi masi satu pulau dan di Indonesia jadi masih bisa mengejarnya. Di jaman
sekarang aku juga tidak perlu merisaukan jarak karena teknologi komunikasi sudah
sangat maju.” Maka Raka memutuskan mengejarnya. Tindakan yang bisa di bilang
bodoh karena bertemu muka saja belum pernah. Namun Raka tidak dapat menutupi
hasrat di dalam dirinya, meski dia sendiri tidak mengerti apakah merasa suka,
simpatik atau mungkin hanya nafsu.
Dari sejak itu
seperti para pejuang, serangan gerilya pun dimulai. Setiap hari, tiap jam, tiap
menit, bahkan bisa mungkin tiap detik Raka menelepon atau sms Amel. Dengan
kemapuan bermanis ria dan membual kesana kesini maka akhirnya tiga minggu
kemudian Amel menerima pernyataan cinta Raka namun setelah bertemu dengannya terlebih
dulu. Perlu diketahui Raka dan Amel belum pernah bertemu dan Amel tidak mau
memberikan fotonya kepada Raka.
Sok sekali cewe itu,
sehingga Raka membuat kesimpulan kalau dia itu tidak seindah yang dikira.
Karena Amel tidak memberikan foto maka membuat Raka menganggap dia itu hanya
mainan saja tidak lebih.
“Keren juga gue,
ternyata gak butuh waktu lama buat ngegebet cewe. Tapi gak jelas juga tu cewe.”
katanya sendiri.
Amel berjanji
liburan tahun baru saat sudah tidak menggunakan putih abu-abu lagi dia akan
datang ke Jogja. Raka menanggapi dengan biasa saja karena toh sekarang dia
tidak terlalu mengharapkan Amel karena Amel masih dalam bayang-bayang yang belum terlihat wujud aslinya.
My happy December
Bulan Desember yang
dijanjikan Amel sangat cepat datang. Tanggal dua puluh tujuh dia memastikan
sampai di Jogja karena dia merayakan Natal bersama keluarganya terlebih dahulu.
Masih saja Raka menanggapi dengan biasa saja dan bahkan sebelumnya Raka malah lupa
kalau Amel pernah bilang akan ke Jogja.
“Jika cantik berarti
kado Natal yang indah namun jika sebaliknya berarti gue sedang apes,” Raka
berucap di dalam hati karena dulu pikirannya mungkin seperti para lelaki
kebanyakan yang mengutamakan kecantikan dari pasangannya, walaupun sebenarnya
itu hanya untuk kesombongan semata. Hanya untuk pamer..
Satu tahun adalah
waktu yang diberikan oleh Amel kepada Raka untuk bertemu dengannya karena
mereka berdua satu angkatan dan sama-sama masih berseragam putih abu-abu. Namun
seiringnya waktu yang ditentukan untuk bertemu sangat lama dan karena jarak
yang memisahkan mereka akhirnya mereka putus komunikasi. Raka tidak pernah lagi
menghubungi Amel dan begitu pula sebaliknya. Hal itu terjadi setelah enam bulan
berlalu. Jadi hubungan mesra mereka mungkin hanya sekitar tiga bulanan. Cukup
tragis, tapi itulah kopi darat.
Namun...
27-12-2000 ; 04:30..
tiba-tiba ponsel Raka berdering. Menyebalkan pikirnya karena masih keenakan
berselimut mimpi tetapi diganggu dengan telepon sialan itu.
Dengan malas Raka
mengambil handphone dan menjawab dengan berat hati.
“Halo, siapa ni?”
“Rak, masih inget
gak sama Amel?”
“He Eh... elo Mel.
Kenapa ya? Kok tumben?”
“Gue minta tolong
jemput di Terminal ya. Gue sekarang di Jogja.”
Ternyata Amel
telepon katanya dia sudah sampai di Jogja.
“Serius Mel?”
“Iya, lo bisa jemput
gak soalnya gue gak ngerti jalan Jogja.”
“Iya-iya.. tunggu
jangan kemana-mana dulu.”
“Aku tunggu kok..tut..tutt..”
Telepon itu mati.
“Gila ternyata dia
serius ke Jogja!” kata Raka masih di ranjangnya sambil bengong karena kaget.
Dia naik bis tidak
naik pesawat seperti yang Raka kira. Sebenarnya Raka malas menjemputnya tetapi
di satu sisi ada pikiran yang menggelitik, penasaran akan sesosok Amel yang
sebenarnya.
Raka memutuskan
untuk menjemputnya. Udara yang sangat dingin langsung menyerang begitu dia membuka
pintu rumah. Namun ternyata rasa penasarannya mampu mengalahkan udara dingin
itu. Dengan menggunakan vespa, Raka melaju dengan kecepatan pelan karena
kedinginan.
15 menit kemudian
Raka sampai di terminal yang Amel maksudkan di dalam telepon tadi. Namun
bingung juga mau mencari bagaimana muka saja enggak ngerti. Disana ada banyak
orang. Tetapi Raka tidak melihat sesosok perempuan muda apa lagi yang cakep
seperti yang Raka idamkan. Kemudian dia memutuskan untuk menelepon Amel..
“Halo, dimana Mel?
Gue sudah ada di terminal ni??”
“Raka, gue ada
disini dari tadi. Ni gue ada di deket warung karena tadi nunggu lo jadi laper.”
Wah doyan makan??
Jangan-jangan Amel overweight?? Pikiran Raka malah jadi tidak karuan.
Ruwet kaya rambutnya yang gak jelas abiz.
Namun karena sudah
terlanjur disini maka Raka memutuskan sekalian saja, kalau mau basah jangan
setengah-setengah. Nyemplung aja sekalian.
“Tunggu jangan
kemana-mana, gue segera kesana.”
Tidak berapa lama
Raka sampai ke warung yang Amel maksudkan tadi namun disana tidak ada siapapun.
“Sial , gue
dikerjain!” pikirnya di dalam hati.
Karena kesal maka
Raka memutuskan untuk meninggalkan dia saja.
Saat sedang menyalakan
motor tiba-tiba punggungnya serasa seperti ada yang menepuk. Segera ditolehkan
kepalanya dan kemudian beradu mata dengan sesosok mata yang menurut Raka sangat
indah.
“ Gila cakep banget
ni cewe!!” kata Raka di dalam hati.
Yang dilihat Raka
adalah sesosok cewe dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluhan hampir sama
dengan Raka, rambutnya lurus sebahu dengan kulitnya yang putih ditambah lagi
binar matanya yang sangat indah. Sempurna, seperti tipe cewe yang diimpikan
Raka.
“Raka ya?.. tanya
makluk bening tadi.
“Iya. Gue Raka. Kamu
Amel??”
“Yup. Emang lo
nunggu siapa lagi?”
“Cuman elo seh. Eh,
oiya ayo naek..” kata Raka sambil mencoba kill the nerveous.
“Kita kemana?”
“Aduh mati! Gue
belom sempet pesen hotel lagi! Ni anak gue pikir cuman becanda mo ke jogja eh
taunya beneran. Gimana ya?” pikir Raka.
“Ke rumah gue dulu
aja Mel, sekalian gue tunjukin rumah gue biar kapan-kapan lo bisa maen langsung
ke rumah. Mau kan?”
“Gak bisa langsung
ke hotel ya? Soalnya aku capek nih, habis dari jalan jauh kan?”
“Emm.. Soalnya hotel
disini check in kan agak siang jadi dari pada kita nunggu lama kan
tambah capek jadi lo bisa nyantai dulu dirumah gue. Gimana? Tar gue langsung
anter ke hotel kok..”
“Ya uda terserah
kamu ajalah.”
“Sip!”
Di jalan Raka masi
saja bingung hotel mana yang mau di booking. Sekarang kan masa-masa liburan
jadi susah buat dapat hotel yang kosong. Dari yang kelas melati sampai bintang
tujuh pun pusing... eh nah lho, kaya obat sakit kepala aja, heheheee...
maksudnya dari kelas melati sampai hotel bintang lima bakal penuh.
“ Ahaa....Tar begitu
sampai rumah gue harus telepon Wawan buat booking hotel bokapnya.” Pikir Raka.
Raka dan Wawan dari
mulai SMP sampai SMA selalu satu sekolah hanya waktu kuliah sekarang saja yang
beda. Wawan memilih jurusan pertambangan sedangkan Raka lebih memilih ekonomi
karena menurutku kuliahnya sangat fleksibel.
Jarak antara rumah
dengan terminal sebenarnya tidak terlalu jauh. Dengan kecepatan seperti waktu
berangkat tadi akhirnya lima belas menit kemudian mereka sampai dengan selamat
di rumah. Karena masih terlalu pagi maka mereka pun ngobrol di teras karena
takut membangunkan yang lain.
“Mel, tar aja ya gue
kenalinnya soalnya semua paling masih tidur. Oiya lo mau minum apa? Aku ambilin
bentar ya..” katak Raka sambil mencoba untuk menghindar dari hadapan Amel dulu
buat mengambil kesempatan telepon Wawan.
“Terserah lo aja.
Yang anget boleh juga tu soalnya tadi di jalan kedinginan.”
“Siap Boz..Wait me
ya..”
Bak maling
mangga Raka langsung melesat menyambar
saja gagang telepon rumah. Saat matanya mengawasi gerak gerik Amel karena takut
dia nguping, tangannya memencet sejumlah angka yang merupakan nomor telepon
Wawan.
“Halo..” terdengar
suara yang berat di seberang sana menandakan si empunya masi lima watt tingkat kesadarannya.
“Woi.. Wan, lo
bangun! Gue mo minta tolong ma elo ni prent. Penting!”
“Apa. Eh siapa ini?
Gue masi ngantuk mo tidur nih!”
“Bangun!! Ah elo
molor mulu! Gue Raka nih, lo bangun terus dengerin baik-baik gue. Gue butuh
pertolongan lo prent.
“Ah, dasar elo Rak!
Apaan? Kudu penting lho soalnya lo da ngrusak ngedate gue ma Sandra Dewi nih!
Oh Sandra....”
“Kampret lo, paling
Sandra Dewi kalo ketemu lo yang ada malah dia muntah-muntah liat lo. Amit-amit
jabang bayi deh...hahahaa...”
“Anjrit pahit banget
lo, da pagi-pagi bangunin gue pake acara menghina dina lagi!”
“Hohoho... sory
prent, gue gak bisa nahan. Gini, tolong lo cek donk kamar hotelmu. Gue butuh
satu pagi ini. Penting banget! Tolongin gue ya”
“Emang buat siapa?
Sodaramu dateng? Emang kawinan siapa?”
“Lho kok
kawinan??...”
“Kan sodaramu yang
di luar kota sukanya dateng pas ada kawinan doank? Hehehee..”
“Sial lo! Ini buat
Amel.”
“Amel Siapa? Kok gue
belum pernah tau lo ada kenal yang namanya Amel.”
“Makanya bangun!
Kemana aja lo waktu gue cerita mpe mulut gue kendur kemaren-kemaren? Udah
pokoknya gue pesen satu kudu ada lho. Tapi yang paling penting gue dikasi
diskon donk. Oke prent..”
“Tu monyong tau
bukan kendur! Ya uda tar gue cariin terus gue call u. Tapi bayar jangan kaya
dulu, bilangnya satu kamar tapi yang datang satu kampung terus akhirnya gue
kasi dua kamar lagi eh lo malah cuman bayar kamar sebiji. Bangkrut gue!”
“Hehehe.. lo kan
prent terbaik gue, segitu amat. Kan kamar dan seisinya masih utuh gak mereka
makan jadi gak abiz to? Wakakaka... ya sudah nanti call gue ya gak enak nih ma yayank..”
“Kambing lo! Emang
lo kira keluarga lo rayap!”..tuut...tut..tut... kemudian Wawan menutup
teleponnya.
“Sory ya lama..”
kata Raka sambil mengantar minuman untuk Amel.
“Biasa aja kok.”
“Gimana tadi
perjalanannya? Sebelumnya sudah pernah ke Jogja belum?”
“Capek. Lho kan gue
pernah cerita ke lo kalo ni first time gue kesini.”
“Eh iya ding. Gue
lupa, maap kalo pagi emg suka lama loadingnya.”
“Raka, ada tamu kok
gak bilang-bilang mama to?” tiba-tiba terdengar sahutan suara yang mengagetkan
Raka.
“He eh, ini Ma,
kenalin temen Raka namanya Amel. Dia baru saja nyampai di Jogja.”
“Amel tante..” kata
Amel sambil mengulurkan tangan ke arah mamanya Raka.
“Lho memangnya Amel ini dari mana?”
“Dari Jakarta tante.”
“Oh dari Jakarta,
terus tadi naik apa kesininya?”
“Naik bis tante,
sebelumnya kata Raka lebih deket jarak rumahnya dengan terminal jadi jemputnya
lebih enak.”
“Iya, memang deket
kok, paling cuman beberapa meter saja. Sebelumnya kok kelihatannya saya belum
pernah melihat Amel ya? Sebelumnya pernah maen kerumah?”
“Amel Baru kali ini
ke Jogja Tant jadi baru pertama kali ini juga maen kesini.”
“Terus kenal dengan
Raka dimana?”
Belum sempat Amel
menjawab tiba-tiba Raka langsung memotong pembicaraan mereka.
“Oiya Ma, nanti kita
makan apa? Si Amel pasti uda lapar tu kan dari perjalanan jauh.”
“Iya ya.. ya sudah
tante tinggal dulu buat masak.”
“Iya Tante maaf
sudah merepotkan.” kata Amel karena sebenarnya dia juga sedang kelaparan berat.
“Inah, sayurannya di
cuci terus di potong ini aku mau goreng ikan dulu.” Kata Mama Raka saat
menyuruh Bi Inah pembantu yang sudah sepuluh tahun ini setia membantu di
keluarga Raka.
“Rak, gue gak enak
kalo ngrepoti mamamu.”
“Kalo ngrepoti tu lo
suruh mijit, nyuci, ngepel, dan kawan-kawannya itu. Nah kalo gitu mah gue juga
ogah emang lo kira rumah ini khusus isinya pembantu, huuu...”
“Hahahaa.. kalo itu
mah pantesnya juga cuman elo lagi.”
“Maksud lo!...” kata
Raka sambil mukanya kecut karena diledeki. Akhirnya mereka pun tertawa lepas.
“Rak, emang lo punya
berapa sodara?” tanya Amel sambil memegang pinggiran bingkai foto keluarga
Raka.
“Gue ada tiga sodara
termasuk gue. Yang pertama kakak gue cewe tetapi dia udah merit kemaren. Gue
anak kedua dan yang itu ade gue namanya Vini.” Jawab Raka sambil menunjuk satu
persatu anggota keluarganya.
“Cantik juga ade lo,
masih sekolah?”
“Yup. Baru masuk SMA
tahun ini.”
”Terus Kakak lo?”
”Terus Kakak lo?”
“Dia namanya Venda,
sekarang tinggal di Bandung ikut suaminya.”
“Oh.. jadi di rumah
cuman bermpat donk?”
“Eit, salah. Kan ada
Bi Inah.” Jawab Raka sambil kemudian mereka mulai menceritakan kehidupannya
masing-masing.
Dua setengah jam
kemudian.
“Raka, ajak Amel
makan yuk. Sudah ditunggu yang lain lho.” Belum sempat mereka meneruskan cerita
yang mulai seru itu tiba-tiba Mamanya Raka memanggil untuk mengajak makan.
Ternyata di meja
makan sudah lengkap. Ada Vini juga Ayah Raka yang tampak sedang asyik meminum
segelas kopi dengan koran di tangannya sambil kursinya agak di mundurin untuk
memberikan ruang supaya dia dapat membaca koran dengan nyaman.
Setelah semua
lengkap di meja makan maka Ayah Raka menutup korannya dan sekarang matanya
tertuju kepada Amel.
“Temennya Raka?”
“Iya Om..”
“Pasti cwenya Raka
tu Pa..” Kata Rini ikut nyerobot.
“Bener tu Rak?”
“Sudah Pa, kita
makan dulu keburu dingin.”
Akhirnya mereka
makan pagi bersama-sama seperti sebuah keluarga yang bahagia.
Dua puluh menit
kemudian mereka telah selesai makan. Ayah Raka langsung mengajak Raka dan Amel
untuk ngobrol di ruang tamu.
“Tadi namanya siapa,
Om lupa?”
“Amel Om.”
“Oh Amel.
Ngomong-ngomong temennya Raka dari mana ya? Kok pagi-pagi sudah kerumah?”
“Iya Om, maaf ini
saya merepotkan. Saya baru saja datang
dari Jakarta Om. Tadi saya dijemput Raka dan katanya disini hotel belum
bisa check in jadi dari pada nunggu di jalan maka saya diajak kesini.”
“Eh, iya kan Pa?
Kalo pagi hotel belum bisa check in kan? Potong Raka karena takut ketahuan.”
“Siapa yang bilang
nggak bisa? Bisa saja asal kita sudah memesan.”
“Oh, aku kira belum
bisa Pa. Tahu gitu kita tadi langsung ke hotel saja bisa ya?” kata Raka
pura-pura tidak tahu sambil memperlihatkan raut awajah polos ke arah Amel.
Tiba-tiba terdengar
ringtone lagu Radiohead yang high and dry dari ponsel Raka.
“Bentar ya Mel” kata
Raka diikuti dengan langkahnya pergi mangambil ponselnya.
“Halo, gimana prent?
Pokoknya lo kudu kasi kabar baik, gue gak butuh kabar yang lain!” Raka langsung
nyembur begitu dia menjawab telpon itu
karena seperti sudah ditebak bahwa yang nelepon itu Wawan teman sejawat yang
sama-sama sableng.
“Woi-woi.. take it
easy bro... Elo tu ya gue nelepon bukan disambut welcome nyapa good morning kek
ato selamat pagi temen terbaikku eh ini malah langsung di sembur.”
“ Udah, nanti aja .
ini penting banget! Ambulance, UGD!.. eh salah maksudnya urgent banget nih! Lo
dapet kamrnya kan?”
“Semua bisa diatur.
Jangan nyebut nama gue Wawan kalo masalah kecil itu saja gak bisa. Tapi lo berani
bayar berapa? Tinggal kelas premium yang paling mahal.”
“Ah elo, sama aja
donk gue gak bisa ambil. Lo tau sendiri kan duit gue berapa?”
“Hahahaa, kidding
kale. Tu tarif gue kasi seperti biasa. Tu lo dapat kamar di kamar yang kemaren.
Tadi gue da ngomong bokap.”
”Sip, lo emang top jack! Tankyu banget ye..”
”Sip, lo emang top jack! Tankyu banget ye..”
“Wawan! Nama gue
Wawan bukan jack!”
“Sama aja, mo wawan,
mo kambing yang penting gue tankyu berat ma lo prent!”
“Dasar elo!” Raka
kemudian menutup telepon dan kembali menemui Amel yang sedang asyik ngobrol
dengan ayah dan mama Raka.
“Ngobrolin apa nih?
Kayanya seru amat?”
”Telepon dari siapa
Rak? Tanya mama Raka.
“Wawan Ma.”
“Emang ada apa dia?
Kok enggak mampir kerumah.”
“Katanya lagi sibuk.
Gak tau tuh gak jelas anaknya. Oiya Mel, ayo gue antar ke hotel dulu biar kamu
bisa istirahat.”
“Lho Mama kira mau
nginep disini? Memangnya mau nginap dimana? Sudah dapat hotelnya?”
“Sudah kok Ma. Nanti
kalo disini Amel takut merepotkan.” Jawab Raka sambil melihat Amel yang
tersenyum sopan kepada mamanya Raka.
“ Terus kalian mau
nginap dimana?” kali ini gantian Papanya Raka ikut bertanya.
“Biasa Pa. Mau
dimana lagi. Tahun baru begini semua hotel penuh.”
“Di hotelnya Wawan?”
“Yup. Sudah ya Pa
Ma, Raka nganter Amel dulu kasihan dia keburu capek.”
“Om Tante, saya
pamit dulu ya..”
“Iya. Raka ati-ati
di jalan jangan ngebut-ngebut!” pesan Mama Raka.
Setibanya di hotel
kira-kira tiga puluh menit dari rumah Raka ternyata di lobi Raka suda di sambut
si empunya hotel yang sama-sama sableng.
“Oh, jadi ini Rak.
Elo tu ya, pantes pagi-pagi ganggu molor gue pake bilang penting banget. gue
pikir buat sodaramu lagi kaya kemaren gak taunya malah begini tingkah lo..”
“Ssst.. bacot lo di
kecilin dikit donk. Awas kalo lo bikin gue tengsin. Gue gak bakal bayar lagi!”
“Anjrit, ancamannya
gitu. Huh, tar gue yang diomelin bokap. Eh terus namanya siapa tuh?”
“ Tu mah derita lo.
Lo kan anaknya, hahaha... Tadi gue kan da bilang namanya.”
Mereka berdua saling
berbisik di depan lobi agak menjauh dari Amel supaya dia tidak mendengar
percakapan mereka.
“Amel, sini bentar.
Ini kenalin namanya Wawan dia tu calon ahli waris hotel ini.”
“Sial lo, kayanya
bokap gue da gak punya waktu lama aja!”
“Amel...” Amel
menjabat tangan Wawan sambil cekikikan karena kata-kata Raka tadi.
“Wawan.. Kamu
cewenya Raka?
“Eh..Bu..” belum
sempat Amel menjawab Raka langsung saja memotong, “Uda nanti aja ngobrolnya lo
pasti capek kan Mel semaleman di perjalanan.”
“Iya, ayo silahkan.
Kamarnya ada di lantai dua.” Kata Wawan sambil mempersilahkan tamunya ini.
“Udah gak usah
dianter gue juga udah paham betul sampe ke lubang cacingnya hotel ini. Yuk Mel
kita naik.”
“Awas lo, tar gue mo
buat perhitungan ma lo.” Kata Wawan sambil menatap Raka jengkel.
“Udah itungannya
belakangan biar sama bonnya aja sekalian..” jawab Raka sekenanya karena geli
melihat sahabatnya itu manyun.
Akhirnya mereka
semua ketawa.
Raka segera meraih
dan membukakan pintu saat mereka tiba di kamar yang telah dipesan sebelumnnya.
“Makasih”
“ Lo ini kaya ma
siapa aja. Nyantai aja kali.”
“Lho kan katanya
kita harus selalu mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang sudah mau
membantu kita.”
“Iya deh, sama-sama.
Udah sana lebih baik kamu mandi terus istirahat dulu. Sekarang aku tinggal,
terus nanti siang kesini buat makan siang terus jalan-jalan. Kamu belum pernah
jalan-jalan disni kan?”
“Belum. Iya deh.
Makasih sekali lagi ya Rak..”
“Gak usa sungkan. Ya
udah met mandi and met bobok ya.” Ujar Raka dengan lembut sambil menuju pintu
kamar dan kemudian menutupnya dengan tenang.
Sesampainya di
bawah, lebih tepatnya di lobi.
“Gimana Rak? Gue
pikir lo ikut tidur disana. Gue sempet was-was tau tar takutnya hotel gue
digrebek cuman gara-gara lo mesum disini.” Teriak Wawan yang sudah stand by
menunggu kedatangan Raka.
“Kampret lo, gue tau
dirilah. Lagian bacotmu tu lo penuh sampah! Jangan kenceng-kenceng ngomongnya.
Tengsin gue!”
“Cieh.. siapa yang
bakal denger. Liat tu sekitarmu. Tinggal orang bule semua mana tau mereka ma
bacot gue.”
“Lho siapa tahu ada
diplomat yang dikirim dari jaman penjajahan makanya di sampai apal bahasa
Indonesia. Lo tu kebanyakan nonton Buser sih, otak lo tu jadi kotor.”
“Kaya otak lo
kinclong aja. Lo ma gue tu gak beda sama-sama dangkal. Ibaratnya aliran
air uda kaya comberan, hahaha..”
“Ah buat lo aja deh,
gue mah makasi aja ma elo, gue kasi semua ma elo..”
“Sial! Lo kira Wajik
bisa dibagi-bagi..” Jawab Wawan sambil ketawa diikuti Raka yang sama-sama geli
dengan percakapan mereka.
Karena rumah Wawan
letaknya tidak jauh, hanya beberapa meter di belakang hotel maka Raka
memutuskan untuk ke rumah Wawan saja sambil nunggu Amel bangun.
10.30 alarm di dalam
jam tangan Raka berdering.
“Wan gue, jemput
Amel dulu ya”
“Jam segini?Emang lo
mo ngajak makan dimana?”
“Nah, itu masalahnya
prent, dompet gue kemaren kena badai Katrina kaya di Amrik sana jadi sekarang
cuman tinggal berapa lembar aja. Masak gue ajak Amel makan bakso di tempat Bang
Udin di bawah pohon sana. Kan gak seru tuh?”
“Ogah!.. Pasti
maksud lo mau pinjem duit kan? Ogah, ni mo gue buat acara tahun baru besok!”
“ah elo pelit amat
ma temen.. Gue kemarin baru aja beli sepatu baru. Keren banget jadi gue gak
tahan buat gak ngebeli.”
“Biar, kalo ma elo
emang pantes, lagian lo juga ngapain beli itu. Kan lo uda tahu kalo Amel bakal
dateng kan?”
“Gue lupa kalo dia
bakal dateng. Gue pikir kemaren dia cuman becanda.”
“Elo tu ya, bego
dipelihara. Eh, sekalian aja gue ingetin pokoknya besok gue juga gak mau
tanggung kamar hotelnya. Lo kudu bayar!..”
“Hahahaa...
Segitunya lo. Tenang prent gue ada duit kok. Kemarin walaupun lupa tapi gue
sempet nabung. Tadinya mau buat beli audio tapi terpaksa gue pending tu audio
terus duitnya buat nraktir Amel aja.”
“Huh, abiz lo
kebiasaaan seh...” jawab Wawan sambil manyun karena sahabatnya ini kelakuannya
dari dulu memang seperti iut. Selalu saja menggampangkan semua persoalan. Dulu
mereka pernah jalan di sebuah mall. Karena melihat restoran masakan jepang yang
baru saja buka, Raka pun mengajak Wawan untuk mencoba masakan disana. Namanya
saja restoran masakan Jepang, disana dari mulai nama dan harga semuanya memakai
istilah di dalam bahasa Jepang. Raka pun dengan tampang sok tahunya memesan
beberapa makanan. Saat ditanya makanan apa yang di pesan terus harganya berapa
karena Wawan sedang tidak bawa uang banyak, maka Raka pun menjawab enteng,
“Tenang kalo ada gue mah semua beres.” Wawan pun percaya dengan sahabat
sablengnya itu. Kemudian makanan yang dipesan pun sudah siap di meja. Dengan
lahap mereka memakannya. Meskipun rasanya agak sedikit aneh bagi yang belum
terbiasa dengan masakan Jepang, namun kedua orang itu kelihatan sangat
menikmati meskipun mereka juga baru pertama kali makan masakan Jepang. Mereka
beralasan jika perut laper semua pasti masuk.
Setelah beberapa
saat mereka akhirnya selesai makan. Karena perut yang langsung menjulang bak
bukit Raka memundurkan kursi sedikit biar sedikit lebih lega buat perutnya.
Tindakan itu lalu diikuti oleh Wawan, kemudian di bertanya kepada Raka karena
dia penasaran Raka membawa uang berapa. Tanya Wawan,”Rak, emang Lo bawa duit
berapa? Kita uda makan banyak banget lho. Ni di dompet gue cuma ada duit dua
ratus ribu. Gak lebih gak kurang. Tar takutnya duit kita gak cukup soalnya yang
gue tahu masakan Jepang itu lebih mahal.?” Lalu Raka pun menjawab dengan
enteng, “Nah itu lo bawa duit banyak. Tenang Wan, gue bawa dua ratus juga kok.
Kalo makanan kaya gini mah di warung Bu Darmi ada. Jadi paling-paling harganya
gak jauh beda.”
Warung Bu Darmi
terletak di sebelah SMA Raka dan Wawan dulu. Warung itu terkenal agak mahal
karena katanya bahan baku masakan ikannya di impor langsung dari Jepang.
Padahal Raka dan Wawan pernah melihat Bu Darmi belanja ikan di pasar Gede.
Karena telah
selesai, mereka pun segera minta bon yang harus dibayar. Betapa terkejutnya
mereka karena mereka mendapati tulisan di bon menunjukkan angka delapan ratus
ribu rupiah. Akhirnya Wawan tertunduk pasrah. Melihat temannya seperti tinggal
menunggu eksekusi ini maka Raka pun dengan sok bijaknya menghampiri dan
memberikan petuah-petuah yang sebenarnya enggak penting. Tetapi Wawan tidak
menanggapinya meskipun temannya itu sudah berbusa mulutnya.
“Tu kan apa gue
bilang. Nyantai aja kalo sama gue.” Kata Raka tiba-tiba. Selanjutnya dia
mengajak Wawan untuk pergi menghampiri meja di paling sudut restoran itu.
Disitu duduk pasangan suami istri yang kira-kira berumur empat puluhan. Dengan
santainya Raka langsung duduk di depan mereka dan langsung menyapa. Berlagak
sebagai wartawan yang sedang melakukan survei romantisme pasangan suami istri
dua ribu delapan maka Raka pun terlihat seolah-olah mewawancarai sambil
terkagum-kagum.
Sepuluh menit dirasa
cukup kemudian Raka pun pamit untuk pulang dan tidak lupa mengucapkan terima
kasih.
Karena dirasa bahwa
Raka adalah wartawan yang sopan maka pasangan suami istri itu melepas Raka
dengan senyuman. Raka pun membalas dengan senyuman sambil pergi ke arah Wawan
yang dari tadi dia tetap saja duduk di kursinya.
“Beres.” Kata Raka
pada temannya itu. Kemudian dia mengajak Wawan pergi karena makannannya sudah
dibayar oleh pasangan suami istri tadi yang diakunya teman dari orang tuanya
Raka. Kasir di resotaran tersebut sebelumnya tidak percaya tetapi Raka kemudian
seolah memanggil dari jauh pasangan suami istri tersebut lewat lambaian tangan
dan kemudian tersenyum. Setelah kasir restoran itu merasa yakin baru dia
melepaskan mereka. Dengan santai Raka melangkah kemudian setelah agak jauh dari
restoran tersebut maka Wawan bertanya sebenarnya rekan orang tuanya yang mana.
Raka pun cerita semua dan Wawan hanya bisa geleng kepala atas kegilaan temennya
itu.
Kembali ke masalah
tadi, karena ini merupakan first date Raka maka dia pun kudu menampilkan
performance terbaiknya. Raka memutuskan untuk pulang, mandi dan berdandan seTom
Cruise (maksudnya sekeren tu bintang pilem...).
Hampir satu jam
lamanya Raka di kamar mandi sampai-sampai mamanya heran karena biasanya Raka
itu susah disuruh mandi atau bisa dibilang jarang mandi.
“Ah, wanginya body
gue.....”
“Mo kemana kamu
Rak?”
“Ini Mam, mo makan.”
“Tumben, makan aja
sampai mandi lama banget gitu. Bentar biar Mami siapin sekalian buat Papimu.”
“He eh, enggak Mi.
Gak usah. Raka mo makan bareng Amel di luar.”
“Oo... Pantes tu
sabun ma pembersih Mami suka abis sebelum waktunya. Ternyata buat persiapan
ketemu ma cewe-cewe ya...”
“Persiapan tempur
Mam...” jawab Raka sambil ngloyor pergi ke kamarnya untuk ganti baju.
Setengah jam waktu
yang dibutuhkan Raka untuk mempersiapkan penampilan terbaiknya setelah hampir
semua baju dan celana yang ada di dalam lemarinya dia coba satu persatu untuk
mendapatkan padu padan terbaik. Meski baju-bajunya bisa di bilang berkelas dan
mahal namun saat ini tidak terlihat demikian. Raka merasa dia tidak mempunyai
baju cukup yang bagus yang pas untuk first datenya ini.
Setelah merasa
sangat oke, dia pun berpamitan dan kemudian menyalakan CJ 7 nya yang di parkir
bersebelahan dengan Livina papanya.
Saat tiba di hotel,
Raka langsung menuju ke kamar Amel. Dadanya serasa bergemuruh saat dia sampai
tepat di pintu kamar. Lima menit adalah waktu yang dibutuhkan untuk
mengumpulkan nyalinya.
“Eh Rak, ayo masuk.”
“Iya. Mel, lo...eh
kamu uda mandi kan?” jawab Raka masi diliputi Rasa grogi.
“Udah donk. Oiya
kita mau makan kemana jadinya?”
“Oh itu, uda tenang
pokoknya aku ada tempat yang enak.”
“Ya sudah kita
langsung berangkat aja, uda laper nih.”
“Siap boz...” jawab
Raka bak hulubalang yang memberi hormat kepada sang putri.
Setelah lima
belasmenit kemudian mereka pun sampai di tempat makan.
“Ini Mel tempatnya,
seafoodnya enak banget. Oiya kamu gak ada alergi ma makanan laut kan?”
“Enggak kok. Sayang
donk makanan enak gak dimakan”
“Ah bisa aja..”
“Kamu mo pesen apa?
Disini cumi saus tiramnya jagoan banget lho. Mau coba?”
“Iya de, penasaran
juga. Sama ini aku mo coba sate udang donk terus minumnya lemon tea aja.
Ngomong-ngomong unik juga masakan disini.”
“Siip. Makanya aku
sering makan disini. Selain unik tempatnya juga bagus.” Kata Raka sambil menyerahkan daftar pesanan
kepada pelayan restoran tersebut.
“Iya, lumayan. Kamu
pasti sering bawa cewemu kesini ya?”
“Eh.. Enggak, siapa
yang bilang. Orang masi jomblo dibilang punya cewe. Biasa juga sama Wawan tu.
Ni first time aku bawa cewe kesini.”
“Ah yang bener...”
“Enggak... hehehe,
becanda. Bener kok kalo disini ya baru sama Amel.” Jawab Raka sambil berusaha
sepolos mungkin.
“Lho kok gitu??...”
Mereka pun kemudian tertawa dan asyik dengan obrolan yang seru sambil makan.
Akhirnya mereka
selesai makan. Perjalanan mereka lanjutkan dengan berkeliling kota. Karena Amel
baru sekali ke Jogja maka dia sangat senang menerima ajakan Raka untuk
berkeliling kota. Malioboro, Kraton, Tamansari sampai akhirnya mereka ke pantai
Parangtritis untuk menikmati pemandangan sunset.
“Kamu senang Mel?”
“Tentu saja.
Ternyata Jogja tu indah ya..?”
“Ini baru sebagian kecil
yang kamu lihat. Masih ada banyak seperti Kaliurang, Kotagede, Candi Borobudur
dan lain-lain.”
“Iya, aku pengen tu
ngeliat Candi Borobudur secara langsung. Besok kita kesana ya?”
“Sip.”
Mereka pun semakin
larut bercerita sampai mentari benar-benar pergi meninggalkan bumi dan berganti
dengan bulan. Malam ini langit sangat cerah sehingga bintang pun seakan
bergantian berkedip secara random sehingga membuat tatapan mata yang ada di
bawahnya tidak pernah berhenti untuk mengagumi.
Malam pun melarutkan
suasana Amel dan Raka. Setelah selama ini mereka masih asing satu dengan yang
lain sekarang mereka mulai mencair dan obrolan pun menjadi hangat. Karena
kecapekan maka Amel pun bersandar di bahu Raka dan Raka pun memeluk Amel supaya
Amel dapat merasa nyaman.
23.45, begitu angka
yang tertera di jam tangan Raka.
“Mel, kita pulang
yuk biar kamu bisa istirahat.”
“Emang sekarang jam
berapa jam sembilan uda ada?”
“Udah sayang,
sekarang malah hampir tengah malam.” Jawab Raka tetapi langsung menutup
mulutnya karena kelepasan ngomong sayang.
“Mulutmu kenapa
Rak?”
“Eh enggak kok. Gak
ada papa. Kita pulang sekarang yuk.”
“Yuk. Rak, kamu
mikir apa yang aku pikir kan?”
“Apaan??”
“Enggak, aku bilang
sekarang pulang aja.”
Akhirnya mereka
pergi menuju tempat parkir mobil. Di jalan entah disadari Amel atau tidak
tetapi mereka berdua selalu bergandengan tangan dan dengan mesra Raka sesekali
memeluk Amel sembari bercerita kesana kemari.
Hampir setengah jam
perjalanan dari pantai hingga samapi di hotel.
“Raka besok kita mau
kemana?”
“Borobudur
terus...kita jalan-jalan ketempat yang seru.”
”ya sudah aku tidur dulu ya. Rak...makasih ya..”
”He eh, iya sama-sama. Met bobo Mel...”
”ya sudah aku tidur dulu ya. Rak...makasih ya..”
”He eh, iya sama-sama. Met bobo Mel...”
Di waktu yang sama
di kamar masing-masing, baik Raka maupun Amel tidak dapat tidur karena terus
menerus mikirin kejadian di pantai tadi. Raka yakin dia tadi mendengar jika
Amel bilang dia mikirin apa yang dia pikir. Tadi dia berpikir dia mulai sayang
Amel.
“Berarti tadi Amel bilang
kalo dia juga da mulai suka gue donk.” Kata raka di dalam hati.
Amel pun merasa ada
sesuatu yang berbeda di dalam diri Raka yang membuat dia menarik. Namun entah
apa itu karena dia sadar dia baru sehari ketemu. Belum pernah ada dalam sejarah
hidupnya dia suka orang pada pandangan pertama. Sebelumnya sewaktu chatting dia
juga tidak pernah merasa suka pada Raka. Dia hanya ingin sekedar iseng aja,
tidak ada perasaan yang timbul sedikit pun karena dia tidak percaya pada
pacaran di dinia maya. Amel adalah wanita yang independent, moderat dan tipe
mandiri. Berkarakter tegas,kuat dan tipe wanita yang tidak bakal mau berada di
bawah lelaki. Karena karakternya yang demikian kuat menjadikan Amel terkadang
menjadi sosok yang galak sekaligus cuek di mata lelaki kebanyakan. Namun,
sebenarnya dia itu lembut dan sangat menyenangkan untuk diajak curhat.
Terlepas dari itu
semua Raka sepertinya sudah benar-benar jatuh cinta.
06.00 WIB Weker di
kamar Raka berdering terus dengan kencangnya.
“Raka lo budek apa.
Tu weker matiin dulu! Gue masi mo molor ne, ini hari gue libur tau!...” teriak
Vini yang jengkel karena tidurnya terganggu dengan weker dari kamar Raka karena
posisi kamarnya persis di sebelah kamar Raka.
“Raka, elo
bener-bener ya!..” teriak Vini lagi sambil beranjak pergi ke kamar Raka. Namun
betapa herannya dia tidak menjumpai kakaknya itu di kamarnya.
“Napa lo Vin?” kata
Raka tiba-tiba dari belakang Vini yang membuat Vini pun kaget.
“Lo dari mana, eh lo
mandi ya? Tumben emang jam berapa sekarang.”
“Mandi. Jam enam
kali. Kenapa?”
“Yaelah masi jam
enam, gue kan mo bangun jam tujuh. Huh, gara-gara wekermu gue jadi bangun pagi
deh. Padahal hari ini kan libur!” kata Vini sewot.
“Salah lo, kenapa
kaya kebo, hahahaha....” Jawab Raka sambil ngeloyor masuk kamarnya terus
langsung menutup pintu.
“Raka nyebelin!..”
teriak Vini sambil ngoloyor pergi kembali ke kamarnya.
Suitan Raka tidak
berhenti karena hari ini hari yang spesial buat dia. Sebenarnya hari-hari
bersama dengan Amel buatnya sangat spesial. Dia sempat menyesal kenapa dulu
tidak percaya kalo Amel tu cantik. Padahal jika dulu dia tau kalo Amel cantik,
tidak usah nunggu lama saat Amel ke Jogja baru bertemu tetapi dia yang bakal ke
Jakarta untuk ketemu dengan Amel. Tetapi saat ini belum terlambat, dia masih
bisa untuk menyatakan cinta sekali lagi supaya mereka benar-benar pacaran.
Jam tujuh tepat Raka
sudah dalam posisi ready buat ngapel. Padahal jika ada kuliah pagi walaupun jam
sembilan sekalipun dia pasti terlambat.
Klimis banget dan
amat sangat wangi hingga radius lima kilometer mungkin bisa mencium wangi Raka.
Raka pun dengan mantap berkaca sekali lagi mengagumi dandanannya itu.
“Mami...ada
hantu...” terdengar teriakan vini yang sangat heboh. Vini pun segera loncat
dari ranjangnya dan pergi ke dapur karena di situ pasti sudah ada maminya yang
sibuk memasak dengan Bi Inah.
“Ada apa?” tanya mamanya
“Non Vini kok mpe
lari-lari gitu? Emang hantu apa Non..?” Bi Inah pun heran dengan Vini.
“Itu Ma, tadi Vini
lagi tidur eh tiba-tiba mimpinya aneh terus ada bau-bau wangi gitu. Nah pas
Vini bangun bau itu masi ada dan tambah menyengat. Hiii...merinding banget Ma,
kayanya tu hantu ada di kamar Vini deh..” belum sempat mamanya menjawab
tiba-tiba,
“Vin, kenapa lo.
Bikin heboh aja?” Raka nongol dari balik pintu.
“Bentar Ma,..” Vini
yang berlagak sok anjing pelacak mengendus-endus baju Raka.
“nah ini dia
baunya.. Gak salah lagi....Hiii..mama takyuuuut...”
“Sial lo! Enak aja
bau gue di samain bau setan, ni parfum mahal tau!” jawab Raka yang gantian
sewot.
“Yeee, sapa suruh
pagi-pagi bikin bau yang gak banget. Da kaya film hantu kunti lo...”
“Dasar lo kebo, gak
pernah cium bau wangi sih. Udahlah, Ma, Raka pegi dulu ya..”
Mamanya Raka dan Bi
Inah pun tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan Raka dan Vini.
“Pagi bener, mau
kemana Rak?”
“Nganter Amel
jalan-jalan Ma.”
“Nganter aja mpe
wangi banget. Ya sudah ati-ati.”
“Biasa Ma, namanya
juga anak muda. Oiya nanti Raka pakai cielonya ya. Raka pergi dulu ya Ma..”
jawab Raka sambil berjalan pergi.
Mobil sedan itu
terparkir rapi di antara deretan mobil tamu yang lain di parkiran depan hotel
Mercure. Bak Andy Lau di Film God of Gambler Raka berjalan, sampai akhirnya
karena gayanya yang super keren itu dia sampai dikira artis oleh tamu hotel
dari Nigeria. Nah, karena bahasa Inggrisnya yang super mepet maka sekarang dia
ganti bermain peran menjadi Desy Ratnasari dengan menjawab “No Comment” setiap
di tanya sesuatu.
Bukan Raka namanya
jika tidak berhasil mengelabuhi orang, turis dari Nigeria itu pun sempat
geleng-geleng. Meski tidak tahu arti gelengan kepala itu, apakah dia kagum atau
malah mencaci tapi Raka tidak ambil pusing. Dia menganggap turis itu ngefans.
“Gile, turis aja
ngefans ma gue, pa lagi Amel... Pasti dia langsung mau gue ajak merrit,
hahahaha....” gumam Raka sambil jalan.
Akhirnya Raka dan
Amel pergi berkeliling melihat keindahan kota pelajar ini lebih jauh.
Accidental
Pada hari ketiga
Amel di Jogja. Tiba-tiba memutuskan secara mendadak harus pulang ke Jakarta.
Hari itu Raka yang sejak jam 8 sudah di hotel...
“Raka, sory gue
besok kudu balik ke Jakarta.”
“Memangnya kenapa?
Bukannya lo janji mo tahun baru disini?”
“Rak, gue gak bisa.
Sory, gue ngerti kalo lo kecewa ma gue tapi gue bener-bener gak bisa.”
“Kenapa Mel? Soal
duit? Tenang gue bisa jamin lo kok..”
“Bukan Rak, ada
sesuatu yang gak bisa gue omongin sama lo. Rak, saat-saat di Jogja ini gue
ngrasa hapy banget. Gue ngrasa ini hal terindah dalam hidup gue. Apa lagi ada
elo, makasi Rak, lo da buat hidup gue lebih berwarna. Tapi gue harus pergi..”
“Mel, gue gak ngerti
lo kenapa. Tapi jika memang itu keputusan lo, gue mo bilang apa lagi...”
“Thanks Rak.. oiya
satu hal lagi, gue sayang lo Rak..”
“Gue juga sayang lo
Mel..” jawab Raka sambil kemudian memeluk Amel dengan erat seolah tidak rela
membiarkan Amel pergi meninggalkannya.
Dua jam kemudian,
Amel sudah selesai berbenah. Kemudian Raka mengantar Amel ke bandara. Karena
mendadak maka jadwal penerbangan penuh, namun untung saja Amel mendapat tiket
siang itu juga.
“Rak, gue pasti
balik ke Jogja. Besok-besok lo juga kudu maen ke Jakarta ya.. Ini alamat rumah
gue. Besok kalo mau maen lo kabari gue ya..”
“Pasti Mel, gue
pasti kesana. Jika gak bisa tahun baru, mungkin Januari gue kesana. Oiya nanti
kita telepon-teleponan or sms or chat ya.. Mel..thanks lo da percaya ma gue...”
“Iya. Bye Rak...”
“Bye...”
Akhirnya pesawat
yang membawa cinta Raka pergi meninggalkan bumi Jogja. Meski sangat sakit namun
Raka percaya cintanya itu pasti kembali.
Love is sick
Januari, Febuari,
hingga Maret hari-hari pun berlalu dengan cepat. Dari semua telepon, sms, email
Raka kepada Amel tidak ada yang di balas. Raka sendiri pernah janji kepada Amel
jika dia akan ke Jakarta pada bulan Januari. Namun Amel tidak pernah memberi kabar.
Sehingga Raka memutuskan untuk menunda hingga Amel memberi kabar.
Bermacam-macam pikiran pun bergelayutan di otak Raka. Sampai akhirnya Raka
memutuskan untuk pergi ke Jakarta.
Mumpung di bulan ini
ada liburan semester, maka Raka memutuskan pergi ke Jakarta dengan sesegera
mungkin.
Dengan berbekal
alamat yang pernah Amel berikan maka Raka pergi ke Jakarta.
Sesampainya di
Jakarta, Raka menjumpai Rumah elit di kawasan Pondok Indah.
“Ini dia rumah Amel.
Alamatnya memang disini, berarti memang ini. Gak salah lagi... Gede juga ni
rumah..” gumam Raka sambil bolak-balik membaca secarik kertas yang berisi
alamat yang diberikan oleh Amel.
Raka pun memutuskan
untuk masuk karena kebetulan pintu gerbannya dalam kondisi terbuka. Dengan
segera dia mengetuk pintu tersebut.
“Permisi..” teriak
Raka.
Tiba-tiba pintu
rumah itu terbuka dan muncul sesosok laki-laki paruh baya.
“Iya, mau cari siapa
ya?”
“Maaf Pak
mengganggu, Amelnya ada.” Jawab Raka sopan.
“Amel siapa ya?”
“Amelia Christianti.
Benar rumahnya disini kan?”
“Maaf ya mas, disini
tidak ada yang namanya itu.” jawab bapak itu.
“Tapi Pak.. Jadi
begini ya Pak, saya Raka temannya Amel. saya dari Jogja dan saya kesini karena
saya diberi alamat ini oleh Amel. Coba bapak periksa, benar disini alamatnya?”
tanya Raka.
“Kalau alamatnya sih
benar disini, tapi yang namanya Amel itu tidak ada. Oh mungkin penghuni yang
lama. Saya ini juga masih baru sebulan disini.”
“Maaf Pak, Bapak
tahu penghuni yang lama pindah kemana?”
“Wah saya juga tidak
tahu, coba saja tanya ke satpam komplek barangkali dia tahu.”
“Ya sudah saya
tanyakan dulu. Trima kasih Pak.” jawab Raka sambil pergi meninggalkan rumah itu menuju pos satpam.
Akhirnya di dapat
informasi jika memang benar Amel dulu tinggal disitu namun karena kesulitan
keuangan maka mereka pindah ke daerah Sunter.
Dengan berbekal
alamat yang di dapat dari satpam komplek tersebut maka Raka pergi mencari hari
itu juga. Karena ketidaktahuan lokasi maka pencarian itu berlangsung hingga
akhirnya jam menunjukkan jam 7. Setelah makan dan numpang mandi di salah satu
Mall, maka Raka memutuskan untuk mulai melakukan pencariannya lagi. Hingga
kahirnya jam menunjukkan pukul 9 Raka menemukan rumah seperti yang tercantum di
alamat itu.
Rumah itu sederhana
sekali sangat jauh dari rumah yang pertama yang Raka jumpai tadi dan letaknya
masuk ke dalam perkampungan yang sempit. Akhirnya Raka memberanikan diri untuk
mengetuk pintu.
“Permisi...”
“Iya.” Pintu pun
dibuka oleh wanita yang meski sudah berumur namun dari rautnya masih
menampakkan sisa-sisa kecantikan masa remajanya namun seolah terbenam oleh
guratan-guratan karena terlalu banyak
memikirkan masalah yang sangat berat.
“Maaf Ibu, apakah
benar alamat ini tepat di rumah ini?” tanya Raka sopan sambil menunjukkan
secarik kertas yang dia dapat dari satpam komplek tadi.
“Iya benar, anda ini
siapa ya dan ada keperluan apa?”
“Maaf Ibu kalo saya mengganggu, nama saya Raka.
Saya merupakan teman dari Amel, saya disini mau bertemu dengan Amel. Apakah
Amel ada disini Bu?” jawab Raka sambil melepas topi yang dari tadi selalu
menempel diatas kepalanya.
Tiba-tiba ibu itu
langsung menangis dan mendekap Raka. Dia lalu menyuruh Raka untuk masuk ke
dalam. Karena tidak mengerti apa yang terjadi maka Raka menurut saja kemauan
dari ibu itu.
“Kamu sudah makan
Nak?”
“Sudah Bu, saya tadi
sebelum kemari sudah makan. Oiya kalau boleh tahu Amel dimana Bu?”
“Oh sudah makan.
Berarti tadi dari Jogja langsung? Kok bisa tahu alamat disini?” jawab ibu itu
seolah mengalihkan pertanyaan Raka.
“Iya. Tadi saya
sempat ke Pondok Indah dulu, kemudian karena tidak ketemu maka saya coba untuk
tanya ke satpan di komplek dan dia memberi alamat disini.”
“Parjo, itu nama
satpam itu. Iya, cuma dia yang saya kasih alamatnya. Kalau begitu kamu menginap
disini dulu saja. Besok kita ke tempat Amel..”
“Memangnya Amel
kemana Bu?”
“Sudah, kamu tidur
aja di kamar Amel. Maaf ya rumahnya kecil.”
“Gak papa Bu, saya
malah terima kasih sudah diijinkan untuk menginap karena saya sendiri dari tadi
juga bingung mau cari penginapan dimana.”
“Ya sudah kamu
istirahat di kamar sana.”
Betapa terkejutnya
Raka karena saat di kamar Amel, foto-foto Raka dan Amel saat di Jogja terpajang
sangat banyak. Baik di bingkai besar maupun di bingkai-bingkai mungil.
Disitu Raka melihat
Amel kecil yang tomboi namun imut. Dan foto-foto yang lain yang membuat Raka
menjadi sangat kangen dengan Amel.
Pagi harinya, Raka
memutuskan untuk bertanya kalau perlu agak sedikit memaksa supaya mama Amel mau
memberi tahu Amel sekarang dimana.
Dan oleh karena
desakan Raka akhirnya mamanya Amel mau menunjukkan Amel dimana. Mereka pun
pergi dengan menggunakan angkutan umum.
“Kita pergi kemana
tante?”
“Kita pergi ke rumah
Amel.”
“Rumah Amel??” Raka
bingung dengan jawaban mamanya Amel tadi. Jika Amel sudah mempunyai rumah
sendiri kenapa mamanya tidak diajak. Apakah Amel menjadi Amel Kundang? Atau
yang lebih parah lagi Amel sudah mempunyai suami. Dan suaminya tidak
mengijinkan mamanya untuk tinggal bersama mereka. Wah, jika seperti itu,
sia-sialah Raka pergi ke Jakarta. Namun apapun yang terjadi, Raka sudah siap
karena tujuan dia memang mau bertemu dengan Amel. Apa pun yang terjadi...
Tiba-tiba mamanya
Amel menyetop angkot itu dan kemudian turun. Area disitu jika dilihat dari
papan namanya adalah area pemakaman.
Namun Raka mengikuti
saja kemauan mamanya Amel, mungkin saja dia mau sekalian mengunjungi makam
saudaranya. Disana Raka berdiri di samping kanan mamanya Amel dan dia sekilas
membaca di situ ada nama Adrian Christanto. Itu nama Papa Amel, dan Amel juga
pernah bilang jika papanya sudah meninggal saat Amel masih SMP. Saat itu Raka
menunggu mamanya Amel berdoa.
Satu jam telah
berlalu dan mereka masih disana. Raka pun memberanikan diri untuk bertanya
“Maaf tante,
bukannya saya tidak sopan atau bagaimana. Tetapi tadi tante janji mau
memberitahu Amel sekarang dimana? Boleh sekarang saya tahu Amel dimana?” tanya
Raka dengan sangat hati-hati, kawatir jika mamanya Amel merasa tersinggung.
“Kamu bener mau
tahu?”
“Iya tante.”
“Kamu siap?”
“Walaupun saya nanti
tahu dia sudah menikah atau hal buruk yang lain. Saya siap menerima semua itu
tante.”
“Dia disini?”
“Disini? Siapa? Amel
maksud tante?”
“Iya.”
“Kapan? Nanti dia
mau menyusul disini? Terus sekarang dia dimana?”
“Itu Amel..” jawab
mamanya Amel sambil menunjukkan nisan di sebelah kiri papanya Amel.
“Aa....meel....”
Raka pun tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ternyata alasan selama ini Amel
tidak bisa dihubungi terjawab sudah.
Amel telah pergi.
Pergi untuk selamanya.
“Sudah lama Amel
menderita penyakit kanker otak, sama seperti yang diderita papanya. Tante sudah
berusaha mengobati Amel ke luar negeri tapi karena biaya yang sangat besar
akhirnya tante bawa pulang kembali ke Indonesia. Amel merupakan anak semata
wayang tante. Desember kemarin dia minta ijin ke Jogja untuk bertemu kamu.
Walaupun tante sudah larang dia karena dia tidak boleh kecapekan tetapi dia
ngotot karena dia bilang, dia suka kamu. Dan sekembalinya dari Jogja
kesehatannya tambah membaik, mungkin akibat dari dia merasa senang disana.
Namun itu tidak bertahan lama karena kenker itu terus menggerogoti dan akhirnya
pertengahan januari tante harus membawa dia ke Singapura. Akhirnya karena sudah
kronis....” mamanya Amel berusaha menahan tangisnya.
“Amel sekarang sudah
sembuh. Dia tidak akan sakit lagi untuk selamanya. Amel sayang.. dia sudah di
surga.”
“Raka, lihat dia
sedang melihat kita, melambai-lambaikan tangannya, disurga dia bahagia melihat
kita orang-orang yang dicintainya. Dia sudah tenang disana Raka...”
“Iiiyaa..tante. Raka
sayang Amel. Sayang sekali... “
“Mel, semoga kamu
bahagia disana, aku akan selalu mencintaimu..”
Akhirnya mereka
pulang. Shari sesudahnya Raka berpamitan untuk pulang ke Jogja. Saat itu
mamanya Amel memberikan secarik kertas berisi tulisan terakhir Amel buat Raka.
Hidup ini suatu
misteri yang tiada ada jawabnya......
-The End-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar